Belajar Peluang Bisnis Ekonomi Kreatif

Belajar Peluang Bisnis Ekonomi Kreatif

(UKWMS-31/1/2020) – Memiliki bisnis sendiri di usia muda telah menjadi impian generasi milenial. Sukses di usia muda memang sesuatu yang menantang. Meski demikian hal ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk diwujudkan, karena ia menuntut proses pembelajaran terus menerus serta kreatifitas untuk mewujudkan peluang bisnis.

Peluang-peluang bisnis baru saat ini memang banyak, khususnya di bidang ekonomi kreatif. Perkembangannya pun terus menunjukkan peningkatan. Kontribusi ekonomi kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dalam empat tahun terakhir tercatat tumbuh rata-rata 9 persen. “Potensi daya saing ekonomi kreatif Indonesia tidak lepas dari keunikan faktor-faktor alam seperti cuaca dan keragaman hayati, maupun kekayaan warisan budaya dan sejarah yang dimiliki,” terang Dr. Wahyudi Wibowo Koordinator Program International Business Management (IBM) Fakultas Bisnis Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (FB UKWMS).

Untuk semakin mengetahui perkembangan, peluang, dan tantangan bisnis baru di ekonomi kreatif terus bertumbuh, FB UKWMS menggelar Kuliah Umum yang bertemakan Kitong Bisa Bisnis!. Bertempat di Auditorium Benedictus Kampus UKWMS Dinoyo, hadir Gracia Billy Mambrasar yang merupakan salah satu dari tujuh orang Staf Khusus Presiden Republik Indonesia. Billy sebelum menjadi staf khusus, adalah seorang wirausahawan sosial pendiri yayasan Kitong Bisa, yang fokus pada pendidikan anak-anak di Papua.

Billy menjelaskan untuk memulai bisnis, perlu tahu bedanya dari yayasan, perusahaan yang fungsinya untuk meraih untung dan social enterprise. “Social entrepreneurship adalah sebuah pergerakan bukan hanya untuk menciptakan profit, tetapi juga memberikan dampak,“ tutur Billy. Menilik beberapa waktu kebelakang sebelum mendirikan yayasan, usai ia menuntaskan sekolah Sarjananya, Billy memilih berkarir sebagai insinyur disebuah perusahaan minyak. “Setelah satu tahun bekerja, saya merasa hidup saya kosong dan bosan. Ketika teman-teman yang lain menabung hasil kerja untuk jalan-jalan, saya menabung untuk membuat kelas kecil untuk anak-anak belajar dan bermain. Awalnya hanya lima orang lalu berkembang hingga ratusan dan bahkan sampai ke Pulau Jawa,” kenang Billy. Melalui yayasan yang didirikannya, Billy punya misi. Ia ingin dengan nama Kitong Bisa, anak-anak itu percaya bahwa mereka bisa. Mereka bebas mau menjadi apapun yang mereka mau.

Billy menegaskan, sebelum membuat gerakan sosial harus merasakan dulu menjadi wirausahawan, susahnya mencari uang sendiri. Dan selalu ada resiko ketika kita keluar dari zona nyaman kita. Ia pun berpesan kepada para peserta, agar sebagai mahasiswa ikut aktif dalam kegiatan kemahasiswaan,  belajar kepemimpinan, visioner atau melihat jauh kedepan, menjadi pemecah masalah, mencari solusi dan menjadi agen perubahan dari pada marah dan mengeluh di sosial media.

Memungkasi materinya, pria yang pernah berjualan kue saat berkuliah ini membagikan tips. “Terserah kita mau membuat bisnis yang seperti apa, hanya mencari untung atau wirausahawan sosial, semua tergantung dengan visi kita. Dan ketika sudah punya ide bisnis atau gerakan sosial, segera identifikasi dengan menghubungkan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals, dan segera eksekusi luncurkan ke masyarakat. Jangan menunggu terlalu lama, karena keburu orang lain yang membuat,” pungkas pria yang pernah menjadi utusan Indonesia untuk berbicara mengenai isu pendidikan di Kantor Pusat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat.