Bisnis Media pada Revolusi Industri 4.0

Bisnis Media pada Revolusi Industri 4.0

(UKWMS-5/10/2018) – Zaman sekarang, perkembangan teknologi membuat segalanya menjadi lebih mudah diakses, khususnya informasi. Hanya dengan sekali klik, pengguna internet menjadi tahu mengenai dunia. Semua lapisan dituntut untuk menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi yang sedang terjadi.

Topik inilah yang kemudian dibahas lebih mendalam pada acara Kompas Saba Kampus, yang diadakan oleh Harian Kompas bekerja sama dengan Lembaga Pengembangan dan Kerja Sama (LPKS) Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), Jumat (5/10). Tidak tanggung-tanggung, acara yang diadakan di Auditorium Benediktus Kampus Dinoyo UKWMS ini menghadirkan tiga praktisi Kompas yang berbicara sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Ketiga sesi seminar dimoderatori oleh Anastasia Yuni Widyaningrum, S.Sos., M.Med.Kom, dosen Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) UKWMS. Topik yang dibawakan pertama kali adalah Tantangan Industri Media dalam Mempertahankan Kredibilitas dan Kualitas Jurnalistik dalam Revolusi Industri 4.0, oleh Mohammad Bakir, managing editor Kompas.

Pada kesempatan tersebut, pria yang akrab disapa Bakir itu bercerita mengenai kebijakan-kebijakan yang diambil Kompas dalam menghadapi ledakan informasi. Tak bisa dipungkiri, saat ini masyarakat seakan sedang mengalami fenomena “banjir informasi” akibat perkembangan teknologi komunikasi. Semua informasi datang, mulai dari yang tak terlalu penting, sampai amat penting untuk diketahui. Hal ini menjadi sebuah tantangan pula bagi media-media yang sudah ada untuk mempertahankan kredibilitas dalam kegiatan jurnalistik yang dilakukan.

Bakir kemudian menyoroti permasalahan banyaknya media yang seakan “latah” dengan apa yang sedang viral di media sosial. Membuat informasi yang urgensinya lebih tinggi menjadi tertutupi. “Kompas ingin mengubah noise (keributan) tersebut menjadi voice (suara). Kami tidak ingin membuat suasana menjadi gaduh,” ungkap Bakir.

Selanjutnya, Bakir bercerita mengenai langkah-langkah yang sudah dilakukan oleh Kompas untuk mengikuti pola generasi millennial dalam mengonsumsi berita. Salah satunya dengan meluncurkan media online Kompas.id. Ia kemudian menampilkan sebuah berita bertajuk Cerita tentang Sungai Citarum dalam platform tersebut. Berita tersebut telah dilengkapi oleh tampilan infografis yang interaktif. Seraya membaca, para pengakses juga dapat menelusuri peta sungai Citarum pada bagian kanan layar, yang muncul seiring dengan berjalannya artikel. “Ini millennial sekali, kan? Biasanya, kalau yang tua-tua seperti saya ini hanya bertugas untuk mengumpulkan data, sementara yang muda-muda bertugas untuk mengemasnya menjadi seperti ini,” ceritanya. Bakir kemudian menjelaskan, adaptasi seperti ini harus dilakukan agar jurnalistik tetap hidup.

Sesi tersebut kemudian dilanjutkan bersama Ayu Kartika, Human Resource Development (HRD) Kompas. Ia menyampaikan materi mengenai Organisasi dalam Tantangan Perubahan (Revolusi Industri 4.0). Ayu mengawali dengan penjelasan singkat revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan kemunculan sistem fisik-siber, the internet of things (tersambungnya seluruh artefak online dan offline ke jaringan lokal, dan global secara kontinu melalui internet), cloud computing (internet sebagai pusat server untuk mengelola data dan aplikasi pengguna), serta cognitive computing (sistem dengan fitur belajar dan adaptasi kontinu seperti otak manusia).

Ayu Kartika selaku Human Resource Development saat memaparkan materi kepada peserta.

Ia kemudian memaparkan data dari World Economic Forum (WEF) yang memperkirakan antara 2015-2020, jutaan pekerjaan akan berkurang dan digantikan oleh teknologi seperti mesin, kecerdasan buatan, dan perangkat komputasi lainnya. “Berbicara tentang Kompas, kami sangat menghargai soft skill yang dimiliki oleh calon tenaga kerja. Untuk masalah hard skill dapat menyusul,” kata Ayu. Ia menjelaskan, bahwa kemampuan untuk beradaptasi dengan tuntutan industri juga menjadi salah satu hal penting untuk calon tenaga kerja. Apalagi ditambah dengan persaingan yang semakin ketat.

Cara lain yang dilakukan untuk menyikapi revolusi ini adalah dengan membentuk struktur organisasi yang agile (tidak terlalu kaku). Biasanya, perusahaan menerapkan struktur organisasi yang mengharuskan koordinasi dengan atasan secara simultan, namun saat ini, pilihan sistem yang lebih baik digunakan adalah sistem agile. “Pada struktur agile, cara kerjanya kolaborasi. Pada setiap proyek, akan dibentuk tim yang terdiri dari orang-orang yang berasal dari divisi yang berbeda. Misal, untuk proyek A, akan diambil satu orang dari tim HRD, satu orang dari tim IT, dan satu orang dari tim marketing (pemasaran),” jelasnya. Ayu sekaligus mengimbau para mahasiswa untuk mempersiapkan diri sedini mungkin. “Ini yang akan kalian hadapi nanti ketika memasuki dunia kerja. Maka dari itu, persiapkan lah mulai sekarang,” tuturnya.

Sumpono Banuardi (Didit) dalam Kompas Saba Kampus di Auditorium Benedictus Kampus UKWMS Dinoyo, Jumat (5/10) lalu.Sesi terakhir dibawakan oleh Sumpono Banuardi, Digital Technology Manager Kompas. Pria yang akrab disapa Didit ini menjelaskan Era Teknologi Informasi dalam Perkembangan Industri Global dan Pengaruhnya Terhadap Media. Didit menjelaskan mengenai shifting (pergeseran) yang terjadi pada internet, termasuk pada chatting system. Ia menjadikan contoh chatting via Telegram dengan rekan-rekan kerjanya, yang kini lebih banyak menggunakan stiker ekspresif untuk berkomunikasi. Kini, pengguna internet juga bisa mendapatkan informasi dari layanan chatting.

Pada kesempatan tersebut, Didit juga bercerita mengenai perkembangan bisnis yang kini menguasai dunia, dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya. “Bisa dilihat, dulu perusahaan nomor satu di dunia adalah perusahaan minyak, tapi sekarang sudah berganti posisinya dengan perusahaan teknologi. Hal ini menunjukkan, teknologi saat ini sudah berperan sangat besar dalam kehidupan kita,” jelasnya.

Lagi-lagi, Didit ikut menggaris bawahi mengenai adaptasi yang dilakukan media untuk menjangkau pembaca millennial via internet. “Mengapa harus repot-repot untuk membuatkan versi online dari Kompas? Ini adalah salah satu cara untuk menjaga keberlangsungan bisnis Kompas sampai beberapa waktu ke depan. Sudah dibuatkan seperti ini, seharusnya juga dapat dimanfaatkan dengan baik pula,” cerita Didit.

Memeriahkan Kompas Saba Kampus pada hari itu ditutup dengan penyerahan doorprize berupa board game dan merchandise eksklusif serta voucher Gramedia bagi audiens yang beruntung. Selain itu, para pencari kerja yang turut hadir juga dapat memasukkan CV dan mengikuti walk in interview secara langsung. (nan)