Jauh-Jauh Datang dari Jepang dan Taiwan demi Olah Minyak Jelantah jadi Biodiesel

Jauh-Jauh Datang dari Jepang dan Taiwan demi Olah Minyak Jelantah jadi Biodiesel

(UKWMS-18/2/2019) Sejumlah 22 orang delegasi asal negara Jepang dan Taiwan bertandang ke beberapa laboratorium dan jurusan-jurusan di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) demi belajar kebudayaan dan pengolahan teknologi pemanfaatan limbah. Mereka adalah 12 orang mahasiswa serta satu profesor asal Shibaura Institute of Technology (SIT) Jepang, tiga mahasiswa dan satu profesor asal Osaka Institute of Technology (OIT) Jepang serta lima orang mahasiswa dari National Taiwan University of Science and Technology (NTUST). Kunjungan rombongan ini wujud kerjasama antara UKWMS dengan NTUST dan OIT serta SIT dalam melaksanakan sistem pembelajaran Problem-Based Learning (PBL) selama tujuh hari yang mengangkat tema ‘Biodiversity as Sustainable Development in Energy and Economic Sectors (Biodiversitas sebagai Pembangunan Berkesinambungan di Sektor Ekonomi dan Energi).

Kerjasama yang diinisiasi oleh Fakultas Teknik ini turut melibatkan Fakultas Farmasi, Fakultas Teknologi Pertanian Jurusan Teknologi Pangan, Fakultas Kedokteran, Fakultas Ilmu Komunikasi, Fakultas Bisnis, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Keperawatan serta Fakultas Kewirausahaan di UKWMS. Pertama kali diadakan pada tahun 2017, kini PBL sudah menginjak tahun ke-3 dan semakin menarik antusiasme peserta dari ke tiga negara.

Prof. Suryadi Ismadji memberikan penjelasan materi biodesel di depan para peserta Program Based Learning (PBL) 2019

Pada hari ketiga pelaksanaan PBL kali ini, diadakan praktikum bersama pembuatan Biodiesel dari limbah yang dilaksanakan di Laboratorium Kimia Organik Fakultas Teknik UKWMS. Biodiesel adalah energi terbarukan dan merupakan pengganti bahan bakar diesel yang mampu mengurangi ketergantungan negara terhadap impor bahan bakar diesel. Biodiesel dapat dipergunakan secara langsung, ataupun dicampur dengan petroleum dalam proporsi tertentu. Umumnya di Indonesia, biodiesel digunakan sebagai bahan bakar campuran dengan proporsi 20% biodiesel dan 80% bahan bakar diesel.

(ki-ka) Mahasiswa UKWMS Karissa bersama mahasiswa Osaka Institute of Techonology Mizuho Koshishiba mengukur viskositas dari minyak jelantah menggunakan Visikometer Ostwald

Biodiesel dapat diproduksi dengan mereaksi kimiawi antara minyak sayur dan atau lemak hewan dengan alkyl alcohol. Menariknya, biodiesel juga dapat diproduksi dengan menggunakan bahan baku limbah rumah tangga misalnya minyak bekas menggoreng alias minyak jelantah. Hal ini tentunya dapat mengurangi limbah dapur rumah tangga dan mengubahnya menjadi produk yang lebih bernilai. Menurut Maria Yuliana Ph.D., selaku dosen Jurusan Teknik Kimia yang memandu jalannya praktikum, proses pembuatan Biodiesel dari minyak jelantah tidaklah rumit. Minyak jelantah cukup dicampur dengan alcohol dalam perbandingan volume 3:1, lalu dipanaskan pada suhu 60˚ celcius menuju 80˚ celcius selama enam menit hingga terbentuk dua lapisan. Lapisan atas adalah Biodiesel dan lapisan bawah merupakan gliserol. “Untuk setiap 100 ml minyak jelantah akan dapat menghasilkan 100 ml biodiesel,” ujar Maria.

 

Menanggapi kegiatan PBL dan praktikum bersama tersebut, Shogo Shimizu dari SIT menyatakan, “saya senang sekali bisa mengikuti program ini karena bisa belajar tentang budaya dan keberagaman di Indonesia yang ternyata bagus dan banyak sekali. Selain itu saya juga ingin membawa kembali pengetahuan yang saya pelajari tentang membuat biodiesel dari limbah minyak goreng ini ke Jepang”.

 

Nick Wang Bo Xun yang merupakan peserta dari NTUST juga mengungkap, “Biodiesel belum banyak dimanfaatkan di Taiwan. Praktikum pembuatan biodiesel hari ini dan juga keseluruhan kegiatan yang sebelumnya kami ikuti mengajarkan pada kami untuk memikirkan secara mandiri tentang bagaimana mencari solusi atas masalah yang kita hadapi sehari-hari. Menurut saya pengalaman ini sangat menarik dan menyenangkan”.

 

Keseluruhan program PBL antara UKWMS, OIT, SIT dan NTUST ini berlangsung selama delapan hari mulai dari tanggal 16 hingga 23 Februari 2019. Sepanjang mengikuti program tersebut seluruh peserta dari tiga negara dipaparkan pada pengalaman langsung berinteraksi dengan keragaman kebudayaan Indonesia. Melalui kesempatan ini mereka juga bersama-sama berdiskusi mencari solusi atas permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat dengan memanfaatkan ilmu yang dimiliki oleh masing-masing sesuai bidang dan latar belakangnya. (Red)