Kembali Mengingat yang Nyata

Kembali Mengingat yang Nyata

Memasuki tahun ajaran baru 2016/2017, Fakultas Filsafat (FF) kembali menggelar tradisi tahunan yakni kuliah umum yang bertempat di ruang teater timur Kampus Pakuwon. Pada kuliah umum yang diikuti seluruh anggota FF ini, Rm. Stanislaus Dadang. Pr, salah seorang dosen, didaulat menjadi pembicara utama. Beliau mengambil tema Kebenaran Subyektif dalam Tiga Tahap Perkembangan Existence dalam pemikiran Soren Kierkegaard. Kuliah umum ini diselenggarakan sebagai upaya membentuk suatu komunitas akademik yang kritis, reflektif, kreatif, dan unggul. Dalam pengantarnya Rm. Widyawan. Pr, wakil dekan fakultas filsafat, mengingatkan, “kita berharap supaya FF terus berkembang semakin baik dan menjadi pusat kajian etika.”

Pada permulaan sesi Rm. Dadang mengungkapkan, “pembicaraan kita pada hari ini akan membahas mengenai tahapan perkembangan eksisten.” Beliau juga menandaskan, “ Soren Kierkegaard, bapak eksistensialisme, menjadi tonggak penting dalam perkembangan aliran eksistensialisme, meskipun banyak pihak mempermasalahkan anggapan itu.” Soren Kierkegaard sendiri merupakan seorang filsuf ternama. Ia menulis beberapa karya filsafat seperti The Concept of Anxiety, The Sickness unto Death, Either/Or, Concluding Unscientific Postscript, dll. Aliran Eksistensialisme yang digagasnya  merupakan aliran filsafat yang mengacu pada individu konkret. Aliran filsafat ini menekankan diri individu sebagai pokok bahasan. Meskipun demikian karya-karya Kierkegaard oleh beberapa ahli dimaknai sebagai bentuk ungkapan dirinya sendiri dalam kehidupan sehari-hari.

Datu Hendrawan, salah seorang dosen filsafat, mengutarakan, “pembahasan mengenai eksistensialisme sangat menarik karena sekarang ini manusia cenderung mudah hanyut pada kehendak afeksi atau kepuasan hasrat. Dengan kuliah ini kita disadarkan supaya manusia sebagai subjek perlu memperhatikan aspek etis dan menemukan aspek religius dalam setiap keputusannya.” Datu juga menandaskan, “Adanya kuliah umum ini menyegarkan kita dengan suatu pemikiran, dan memanaskan akal kita dengan berfokus pada satu pokok bahasan.”

Dalam kuliah yang diikuti sekitar 40 peserta termasuk tamu undangan, sesi tanya jawab menjadi ajang diskusi dan wadah mempertajam argumentasi yang diajukan. Sesi tanya jawab sendiri memakan hampir satu setengah jam. Mengingat tingginya antusiasme peserta mengajukan pertanyaan, panitia terpaksa memberi batasan waktu supaya kegiatan tetap dapat berjalan dengan lancar dan sesuai jadwal.

Salah satu peserta, Tommy, memberikan pesannya mengenai kegiatan ini, “ kuliah perdana ini membuat saya semakin sadar mengenai diri saya sebagai subjek. Tahapan-tahapan perkembangan eksistensi menyadarkan saya, dan membantu saya dalam membuat keputusan. Selain itu, tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi masyarakat karena sekarang ini masyarakat sangat tertarik dengan yang virtual sementara sesuatu yang real menjadi terlupakan.”

Anastasia Jessica, dosen filsafat, mengajukan sejumlah pertanyaan kritis terhadap argumentasi pembicara.

Anastasia Jessica, dosen filsafat, mengajukan sejumlah pertanyaan kritis terhadap argumentasi pembicara.

Mengenai kesannya terhadap kuliah umum ini, Rm. Dadang. Pr menyatakan, “ kuliah umum sebagai sebuah awal perkuliahan sungguh patut diapresiasi karena membangkitkan kegairahan, kecintaan, dan antusiasme dalam kegiatan belajar. Berkaitan dengan tema yang diangkat, saya berharap siswa dapat sampai pada tingkat kesadaran di mana mereka sadar bahwa mereka adalah subjek dan memiliki kebebasan atau power untuk mengambil keputusan. Dalam tingkat yang lebih luas, saya berharap dalam tema-tema yang diambil dalam kuliah umum selanjutnya terjadi suatu variasi dan bahkan jika perlu turut mengundang dosen-dosen yang lain sehingga semakin menyemarakkan diskusi.” Dengan demikian kuliah umum ini sungguh menjadi upaya Fakultas Filsafat memberikan wadah berpikir sekaligus untuk menyoroti permasalahan aktual. (Alexander Detayoga)