Kulit Pisang untuk Tablet Apung

Kulit Pisang untuk Tablet Apung

Optimasi Formula Tablet Floating Ibuprofen Menggunakan HPMC K4M-Amilum Kulit Pisang Agung dan Natrium Bikarbonat sebagai Floating Agent

“Penelitian saya merupakan pengembangan lanjutan dan berfokus pada pengembangan fungsi dari amilum kulit pisang. Pada penelitian ini digunakan amilum kulit pisang agung yang berfungsi sebagai matriks kombinasi untuk sediaan tablet floating ibuprofen,” tandas Kresensia Apriana Bukarim mahasiswi Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (FF UKWMS) yang meraih predikat Wisudawan Akademik Terbaik.

Mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan (PERMENKES) RI Nomor 87 Tahun 2013, tentang Peta Jalan Pengembangan Bahan Baku Obat, dalam PERMENKES dijelaskan bahwa Amilum merupakan salah satu bahan baku obat yang akan dikembangkan dalam skala jangka menengah. Dari situlah, ide pengembangan Amilum dimulai.

Pada penelitian ini digunakan amilum kulit pisang agung untuk sediaan tablet floating ibuprofen. Tablet floating adalah tablet yang mampu mengapung pada cairan lambung karena memiliki densitas (massa jenis) yang lebih kecil dari air, dan dirancang untuk mampu bertahan selama 10 jam di dalam lambung. Amilum kulit pisang berfungsi sebagai matriks kombinasi pada pelepasan obat yang terjadi secara perlahan. Model obat yang digunakan disini adalah ibuprofen yang berindikasi untuk pengobatan antiinflamasi. Dengan pelepasan perlahan ibuprofen pada lambung akan meningkatkan absorbsi ibuprofen dan kadar ibuprofen dalam darah. Dari penelitian ini diketahui bahwa amilum kulit pisang agung selain dapat digunakan sebagai bahan pengikat pada sediaan tablet, dapat juga digunakan sebagai matriks pelepasan tablet floating.

Tahap-tahap pembuatan tablet diawali dengan pembuatan amilum kulit pisang agung, lalu pembuatan tablet menggunakan formula yang sudah fix, pengujian dan evaluasi tablet, termasuk didalamnya analisis kadar obat mencari formula optimum mengunakan program design expert pembuatan tablet optimum serta pengujian dan evaluasi tablet optimum.

Penelitian ini dilakukan kurang lebih satu tahun bersama temannya yakni Asmaul Fauziah, Morisia HW, dan Deianira Chandrikarani dengan didampingi oleh Dosen Pembimbingnya, Dr. Y. Lannie Hadisoewignyo, S.Si., M.Si., Apt. dan Henry K. S, S.Si., M.Si., Apt. Wanita kelahiran Kupang, Nusa Tenggara Timur ini mengaku terdapat kendala pada tahap awal melakukan orientasi, yaitu kesusahan menentukan formula (pemilihan bahan tambahan yang sesuai) agar tablet dapat mengapung pada cairan HCl (simulasi cairan lambung) sesuai waktu yang ditetapkan.

Kedepannya, Kresensia berharap bisa menjadi seorang apoteker yang mampu memberikan suatu kontribusi positif untuk profesinya terutama dalam pengembangan bahan obat. Untuk penelitian ini, Ia berharap semoga menjadi salah satu dari sekian banyak skripsi yang bisa menjadi acuan atau referensi untuk pengembangan pada tahap yang lebih tinggi. Penggunaan amilum kulit pisang dapat terus berkembang. “Untuk ke depan saya berharap punya kesempatan untuk melanjutkan penelitian ini pada tahap uji in vivo, untuk melihat kadar obat dalam darah. Namun kembali lagi, kalau diberi kesempatan kuliah S-2,” pungkasnya. (epb)