Mendulang Hikmah dari Penugasan Dosen di Sekolah

Mendulang Hikmah dari Penugasan Dosen di Sekolah

(UKWMS 13/11/2018) Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) adalah ujung tombak pendidikan karena dari institusi inilah pendidikan calon guru diselenggarakan. LPTK yang unggul didukung oleh dosen-dosen unggul yang berkompeten secara profesional, pedagogis, personal, dan sosial. Keempat kompetensi ini didukung dan berkembang terus-menerus seiring dengan pengalaman dan jam terbang dosen. Hal yang penting bagi dosen LPTK adalah pengalaman langsung dengan dunia guru yang sesungguhnya, yakni pengalaman di sekolah di mana guru-guru mengajar seperti di sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama dan atas (SMP dan SMA), serta sekolah menengah kejuruan (SMK).

“Pengalaman dosen di sekolah tersebut selama ini terbatas pada kegiatan penelitian dan program pengalaman lapangan untuk mahasiswa calon guru, di mana dosen berperan sebagai peneliti atau pembimbing mahasiswa,” ujar Dr.V. Luluk Prijambodo, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS). Lebih lanjut Luluk menyampaikan bahwa Impact kegiatan ini terbatas karena dibatasi lingkup akademik murni sebagai peneliti ataupun pembimbing. Kontak dan pengalaman langsung dengan guru-guru dan sekolah mungkin juga didapat saat dosen memberikan training singkat atau workshop untuk guru. Namun demikian, pengalaman yang komprehensif di mana dosen, guru dan siswa bertemu di dalam kelas, interaksi untuk saling belajar dan saling membagikan pengalaman belum banyak dilakukan.

Melihat situasi dan kebutuhan untuk meningkatkan mutu guru dan dosen secara berkelanjutan, maka FKIP UKWMS memutuskan untuk terlibat langsung dan mengirimkan dosen-dosen senior (dengan kepangkatan akademik minimal lektor) untuk mengajar sekaligus belajar di sekolah dalam Program Penugasan Dosen di Sekolah (PDS) yang telah dicanangkan oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Hasilnya adalah pelaksanaan program hibah dari ristekdikti yang dijalankan mulai bulan Juli dan berakhir Oktober 2018. Dilaksanakan di 8 sekolah (1 SD, 3 SMA 4 SMP di Surabaya) masing-masing dengan penugasan 10 orang dosen.

Drs. Kuncoro Foe, G.Dip.Sc., Ph.D., Apt selaku Rektor menyampaikan dalam sambutannya saat penutupan program PDS, bahwa pendidikan merupakan satu titik kunci dalam kemajuan suatu bangsa, karena pendidikan menghasilkan sumber daya manusia. “Produk pendidikan haruslah mampu mengelola sumber daya yang ada sekaligus memiki kemampuan berwirausaha sehingga mampu bertahan dan menghasilkan karya di abad 21 ini,” ujarnya. Lebih lanjut ia mengingatkan jika kementerian menilai bahwa dosen yang bertugas menyiapkan tenaga guru perlu pengalaman untuk belajar dan mengajar di sekolah. Sehingga bisa berbagi pengalaman aktual atas permasalahan-permasalahan jenis apa yang akan dihadapi calon guru nantinya di tempat kerja mereka masing masing.

Pada momen yang sama hadir pula Mateus Yumarnamto, M.Hum., Ph.D. sebagai pembicara dalam seminar yang diadakan sebagai penutupan program PDS pada hari Selasa, 13 November 2018 tersebut. Melengkapi hal yang disampaikan Kuncoro sebelumnya, Mateus berujar “pendidikan guru itu terus berkembang, seorang guru yang baru lulus dari FKIP bukan berarti sudah siap menjadi guru. Seorang guru kini juga dituntut untuk memiliki keterlibatan dengan komunitas profesional. Hal ini perlu karena komunitas ini adalah tempat berkembang bersama”.

Acara yang dilaksanakan di Ruang Pelatihan di Kampus Kalijudan UKWMS tersebut juga mengundang Drs. G. Budijanto Untung, M.Si. selaku dosen yang mengikuti program PDS dan Santi, seorang guru Fisika di SMAK Stanislaus Surabaya untuk berbagai pengalaman. “Hal yang luar biasa adalah ternyata anak-anak SMA memang memiliki minat yang tinggi dalam belajar fisika, mereka bahkan membuat alat-alat unik dan saat menemui permasalahan mereka akan bertanya pada guru yang mengajar sehingga menghasilkan proses diskusi. Pengalaman seperti inilah yang membuat dosen mendapatkan penyegaran kembali dan merasakan langsung bagaimana rasanya mengajar,” ujar Budi. Santi pun menyampaikan bahwa sebagai guru SMA yang mendampingi dosen, ia sangat merasakan manfaat pendalaman materinya. Selain itu gaya mengajar yang berbeda antara guru dan dosen membuat siswa siswi merasakan situasi yang di luar kebiasaan namun justru melengkapi ilmu yang mereka dapatkan. (Red)