Mesin Pengering Serba Guna

Mesin Pengering Serba Guna

Jika Angela lebih tertarik dengan urusan bercocok tanam, lain lagi ceritanya dengan Fandri yang terinspirasi dari usaha kecil pabrik krupuk yang dijalankan oleh keluarganya. Berkat bimbingan Andrew Joewono ST., MT dan Ir. Rasional Sitepu, M.Eng,  Fandri berinovasi menghasilkan sebuah mesin pengering yang kadar kekeringannya bisa diatur, hemat energi karena sistem pemanasan angin panas putar tertutup dan bahan bakar gas LPG dengan kapasitas maksimum skala industri. “Tidak hanya krupuk, tapi bisa juga untuk olahan makanan lainnya maupun bahan baku, seperti kopi, cengkeh, dan ikan,” ungkap Fandri. Kedua karya TTG tersebut telah diakui oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya serta akan mewakili Kota Pahlawan di Gelar Teknologi Tepat Guna Nasional ke XIX di Palu pada  bulan Oktober yang akan datang.

Mesin pengering serbaguna dibuat oleh Fandri Christanto dirancang untuk membantu pengusaha kerupuk yang membutuhkan waktu seharian dalam proses mengeringkan kerupuk. Metode pengeringan manual juga memiliki kelemahan yaitu cuaca tidak selalu mendukung dan juga memakan lahan cukup besar. Mesin karya Fandri ini proses pengeringannya hanya memakan waktu yang berkisar kurang lebih 90 menit, selain itu akan mati secara otomatis ketika kerupuk kering. Otomatisasi itu berkat sensor yang dipergunakan yakni DHT 22, yang mampu membaca nilai kelembaban dan suhu pada alat. Agar lebih efisien, Fandri menggunakan sistem kipas di bagian dalam alat agar suhu panas dapat berputar dan tersebar lebih merata. “Jadi tentu saja hemat energi, dan kualitasnya lebih terjamin. Karena lebih higienis, jadi tahan lebih lama pula,” kilah Fandri menambahkan.

 

Fandri mengerjakan mesin pengering serbaguna tersebut selama enam bulan. Segalanya ia kerjakan sendiri dari nol. “Memang awalnya saya kesulitan mengelas dan sebagainya, tapi akhirnya terbiasa. Setelah itu kesulitannya lebih pada penyesuaian sensor kelembaban yang diterapkan,” ujarnya. Mesin berukuran total 260 cm tersebut terdiri dari tiga bagian yang bisa dipisah-pisah bila hendak dipindahkan. Bagian yang paling besar adalah sebuah bilik pengering yang seluruhnya terbuat dari aluminium. Pada bagian dalam bilik dengan lebar 110 cm dan panjang 120 cm setinggi 240 cm tersebut ada sebuah sensor yang terpasang untuk mendeteksi kelembaban. Tersambung pada bilik tersebut adalah sebuah saluran untuk meniupkan udara panas dari kipas yang bekerja dengan listrik hanya 72 watt.

“Energi panas yang dipergunakan adalah api dari gas LPG ukuran tiga kilo yang dapat dipergunakan untuk setidaknya tiga kali proses, mengingat harga listrik yang mahal, ini adalah sebuah alternatif yang jauh lebih terjangkau bagi pelaku usaha kecil,” tambah Andrew sebagai pembimbing. Menurut perhitungan, penghematan biaya yang dilakukan dengan menggunakan alat  pengering serbaguna ini cukup signifikan. Jika menggunakan listrik sekitar Rp. 60.000,- untuk satu kali pengeringan, sedangkan dengan LPG Rp. 18.000,- dapat melakukan tiga kali proses pengeringan. Bagi Fandri, yang terpenting adalah karya inovasinya ini dapat membantu kedua orangtuanya dalam menjalankan usaha. “Saya menyaksikan dan membandingkan sendiri, betapa sedih pembuat krupuk saat musim hujan tidak bisa mengeringkan krupuk padahal pesanan sedang banyak. Kalaupun matahari sedang terik, butuh waktu delapan jam untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Alat ini lebih hemat waktu, energi dan higienis,” ungkapnya.  (Red)