Modifikasi Penghantar Obat dengan Ekstrak Buah Lerak

Modifikasi Penghantar Obat dengan Ekstrak Buah Lerak

(UKWMS-17/9/2019) Bila ditanya mengenai guna buah lerak, mungkin kita akan sontak menjawab sebagai bahan pencuci kain batik. Jawaban lain yang muncul bagi pecinta lingkungan adalah sebagai deterjen ramah lingkungan. Keduanya tidak salah, namun di tangan Vania, Wisudawan Akademik Terbaik Program Studi (prodi) Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), ekstrak buah mungil ini dimanfaatkan sebagai bahan modifikasi penghantar obat, Nanocrystalline Cellulose (NCC) atau selulosa nanokristal. Melalui modifikasi ini, proses pelepasan obat dalam tubuh menjadi lebih efektif.

Mulanya, ketertarikan dara kelahiran tahun 1997 untuk meneliti hal ini berawal dari fakta mengenai melimpahnya senyawa selulosa sebagai polimer di alam, baik dari biomassa, atau pun limbah pertanian. Selulosa sendiri dapat dimanfaatkan untuk sintesis NCC, kristal yang memiliki beragam manfaat. “Beberapa fungsinya di antara lain sebagai komposit, campuran material sebagai reinforcing agent (penguat), dan penghantar obat,” jelas Vania. Pada penelitian ini, ia mengarahkannya pada tujuan yang terakhir.

Selama ini, modifikasi NCC masih menggunakan surfaktan sintetik yang harganya relatif lebih mahal. Vania berharap, dengan menggunakan surfaktan dari buah lerak dapat menekan biaya produksi juga lebih ramah lingkungan.

Senyawa selulosa sendiri didapatkannya dari kertas saring, kemudian dihidrolisis dengan asam sulfat pada suhu 45°C selama satu jam sehingga dapat menghasilkan NCC. Prosesnya tak berhenti sampai di situ. Ada proses pencucian yang harus dilalui untuk menghilangkan sisa asam dan hasil samping. Pada tahapan selanjutnya, Vania mulai mengolah buah yang memiliki rupa mirip dengan kacang walnut tersebut.

Tahapan yang harus dilalui cukup panjang. Buah lerak harus terlebih dahulu dipisahkan dari bijinya sebelum dikeringkan. Ukurannya kemudian dikecilkan dan diekstrak dengan pelarut air dengan suhu tertentu selama satu jam. Setelah itu ekstrak dipekatkan, dikeringkan, lalu dikarakterisasi dengan sejumlah pengukuran. Ekstrak dari buah lerak ini disebut rarasaponin. Usai dibuat, rarasaponin pun siap untuk didispersikan dalam air dengan NCC. Perlu dilakukan pengadukan selama satu jam sebelum senyawa ini siap.

Model obat yang digunakan adalah antibiotik tetracycline. Untuk menguji bagaimanakah kinetika pelepasan obat dalam tubuh, Vania melakukan pengukuran dengan alat, serta uji desorpsi atau pelepasan obat pada larutan buffer. Larutan ini mirip dengan cairan di dalam tubuh. Tidak menutup kemungkinan modifikasi ini digunakan pada obat yang lain.

Butuh waktu satu semester bagi mahasiswi yang sempat aktif sebagai anggota BEM Fakultas Teknik UKWMS ini untuk merampungkan penelitiannya. “Salah satu kesulitannya adalah mencari literatur untuk rarasaponin, karena masih jarang digunakan,” cerita Vania. Ke depan, Vania berharap penelitiannya dapat dikembangkan untuk digunakan pada obat yang tidak larut dalam air atau hidrofobik. Saat mengerjakan penelitian, Vania dibimbing oleh Prof. Ir. Suryadi Ismadji, Ph.D., IPM., dan Felycia Edi Soetaredjo, Ph.D., IPM.