Sabun Bening si Labu Kuning

Sabun Bening si Labu Kuning

(UKWMS-18/4/2017)Penggunaan sabun bagi masyarakat menjadi hal penting menyangkut kebersihan. Tak hanya itu, bahan-bahan yang digunakan untuk membuat sabun seringkali terbuat dari ekstrak wewangian buah ataupun bunga yang tidak banyak dijumpai di Indonesia. “Demi mengangkat kekayaan buah lokal yang mudah dijumpai, Ellisa Widjanarko menciptakan inovasi sabun transparan yang dapat diaplikasikan untuk membersihkan tubuh hingga wajah,” demikian ungkap Farida Lanawati Darsono, dosen Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) tentang anak didiknya. Ellisa saat ini sedang menjalani kuliah apoteker di Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.

Inspirasi membuat sabun muncul ketika melihat beragam kosmetik telah banyak dihasilkan dalam berbagai bentuk, namun pemanfaatan bahan alam yang dipakai cukup sedikit. “Padahal beragam bahan alam lain yang ada di Indonesia juga memiliki kandungan zat berkhasiat yang tidak kalah tinggi,” ujar Ellisa. Buah labu kuning yang sering disebut waluh kuning dalam bahasa Jawa mudah ditemui dan dibeli karena harganya yang relatif murah. Ellisa menjelaskan bahwa dengan kandungan betakaroten di dalamnya, buah ini berpotensi untuk diformulasikan menjadi sediaan kosmetik yang berkhasiat sebagai antioksidan.

Sabun transparan diartikan sebagai sabun yang mampu meneruskan cahaya, sehingga obyek yang berada di balik sabun dapat terlihat dengan jelas hingga jarak 6 cm. Sabun hasil kreasi Ellisa berwarna kuning hingga coklat, tergantung dari banyaknya ekstrak yang diberikan. Varian sabun batang dipilih karena harganya yang murah dan memiliki aksi membersihkan lebih baik daripada sabun cair. Dari sinilah tercipta sabun transparan dari ekstrak labu yang mengandung antioksidan tinggi sehingga menutrisi seluruh bagian tubuh.

Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa konsumsi antioksidan secara oral (melalui mulut) perlu diimbangi dengan penggunaan antioksidan secara topikal (melalui kulit). Alasannya karena seringkali kandungan antioksidan yang diminum tidak cukup untuk sampai ke epidermis kulit, sehingga gagal menutrisi dan melindungi kulit dari radikal bebas. Dari situlah Ellisa memilih sediaan sabun, di samping dapat membersihkan juga dapat menutrisi kulit. Proses pembuatan sabun transparan adalah dengan mereaksikan bahan lemak/minyak dengan basa (alkali). Minyak yang digunakan dalam penelitian ini adalah VCO (Virgin Coconut Oil) yang berasal dari buah kelapa, karena kandungan asam lemak jenuhnya sedikit sehingga tidak menimbulkan bau tengik.  Di samping itu sabun transparan ekstrak buah waluh kuning ini juga berpotensi sebagai antioksidan yang mampu memelihara kesehatan kulit  dan secara alamiah.

“Awalnya dilakukan orientasi (percobaan) di laboratorium untuk melihat apakah sediaan sabun yang dihasilkan layak pakai dan memenuhi syarat baik secara mutu fisik, efektivitas, keamanan maupun aseptabilitas,” ucap Ellisa. Aseptabilitas merupakan suatu kriteria yang menyatakan apakah produk yang dihasilkan dapat diterima oleh masyarakat. Dari hasil orientasi dilakukan adjustment (penyesuaian) terhadap beberapa bahan sehingga menghasilkan sediaan sabun yang memenuhi syarat. Berkat bimbingan Farida Lanawati Darsono, S.Si., M.Sc. dan Sumi Wijaya, Ph.D., Apt., Ellisa dapat menyelesaikan penelitian ini sebagai tugas akhirnya.

Kesulitan yang dilalui pada penelitian ini muncul saat sabun yang dihasilkan relatif memberikan kesan berminyak, serta permukaan yang licin, sehingga kurang nyaman ketika digunakan. Setelah mencoba berulang kali hingga mendapatkan formula basis sabun yang cukup baik, saatnya menambahkan ekstrak labu kuning. Namun awalnya ekstrak tersebut tidak dapat tercampur merata dengan basis sabun, sehingga homogenitasnya dipertanyakan. “Memang prosesnya cukup panjang, butuh usaha lebih, dan gagal berulang kali, namun hasilnya memuaskan,” ujar Elisa seraya menunjukkan karyanya yang berbentuk bungkahan sabun-sabun berbentuk bunga kuning. (hra/Red)