Satukan Perbedaan untuk Indonesia

Satukan Perbedaan untuk Indonesia

(UKWMS-4/11/2019) – Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) melalui Jaringan Akademik dan Kemahasiswaan APTIK (JAKA) kembali menggelar acara tahunan Intercultural Student Camp (ISC) 2019. Untuk angkatan kelima ini, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya bertindak sebagai tuan rumah dan memilih ‘Tantangan Kaum Millenial dalam Mewujudkan Peradaban Kasih’ sebagai tema kegiatan. Melalui tema ini, kaum millennial sebagai representasi mahasiswa, multikultural sebagai representasi intercultural dan camp sebagai representasi dari eksplorasi alam terbuka. Acara ISC 2019 berlangsung mulai 30 Oktober – 2 November 2019 dan diikuti oleh 101 peserta dari 21 Perguruan Tinggi Katolik se-Indonesia.

“Setelah hiruk pikuk panjang dan mencekam karena perbedaan pilihan politik, maraknya hoax berkepanjangan, munculnya indikasi menguatnya paham radikalisme-intoleransi di masyarakat luas termasuk di pendidikan tinggi, semakin menyadarkan kita semua akan pentingnya penguatan toleransi dalam keberagaman,” ungkap Antonio Aldi selaku Ketua Pelaksana.

Kegiatan hari pertama, berlangsung di UKWMS Kampus Dinoyo dengan pembukaan penampilan tari Remo dari Kementerian Kesenian dan Kebudayaan UKWMS. Usai penampilan, siang itu Michael Seno Rahardanto, S.Psi., M.A., hadir sebagai moderator, dan hadir sebagai narasumber yakni Ignatius Novianto Hariwibowo, SE., M.Acc., dan I Gusti Ketut Budiartha, S.Ag., M.Pd.H. “Kalau dengan kasih kita bisa melampaui banyak hal, maka tema ini sangat tepat bagaimana anak muda membangun peradaban kasih, dan kasih akan menyempurnakan semua itu. Tantangan anak muda ada tiga yakni perkembangan teknologi, radikalisme serta kerusakan lingkungan. Dan sadar atau tidak, suka tidak suka pasti akan menghadapi hal ini,” jelas Novianto Koordinator APTIK.

Novianto menjelaskan, yang perlu direfleksikan adalah perubahan teknologi merubah perlakuan manusia. Yakni perubahan cara pikir, cara pandang hingga perilaku orang. Artinya, selain ada kesempatan, juga ada ancamannya. Ia pun menegaskan, “Pada hakikatnya keberagaman itu tidak bisa musnah, itu adalah anugerah,” pungkasnya.

Ki-ka, dari Ponpes Tebuireng Ustad Roziqi, Ustad Iskandar, Kyai Hanan dan Novianto selaku Koordinator APTIK-rsz
Ki-ka, dari Ponpes Tebuireng Ustad Roziqi, Ustad Iskandar, Kyai Hanan dan Novianto selaku Koordinator APTIK-rsz
Peserta ISC 2019 dari STKIP Weetebula Sumba-rsz
Peserta ISC 2019 dari STKIP Weetebula Sumba-rsz

Beranjak ke pembicara kedua yang merupakan Cendekiawan Hindu. Kedatangannya seakan mengimbangi materi dari Novianto, terutama mengenai kasih. “Ada tiga penyebab kebahagiaan yakni kita dengan Tuhan Yang Maha Esa, kita dengan sesama manusia dan kita dengan lingkungan. Jangan sampai hubungan kita dengan alam tidak dijaga dengan baik. Mari kita berikan imbas kasih sayang untuk sekitar kita walau hanya secuil. Dan dari semua agama, intinya adalah kembali ke cinta kasih,” jelas Budi.

Selanjutnya para peserta menuju ke Wisma Resi Aloysii, Pacet untuk acara berikutnya. Materi Sambung Rasa berikutnya disampaikan oleh RD. Bernadus Satya Graha dari Campus Ministry UKWMS dengan tema “Perspektif Peradaban Kasih”. Romo Satya memberikan contoh perbuatan kasih dari kisah orang Samaria yang menolong seseorang yang terkena musibah dari alkitab. Kisah ini memiliki empat tokoh utama yakni Imam, orang Lewi, orang Samaria dan orang yang terkena musibah. Imam dan orang Lewi yang mengetahui orang tersebut terkena musibah, namun hanya melewatinya tanpa peduli padanya. Berbeda dengan orang Samaria mau membantunya dengan tulus hati.

“Cerita ini mengajarkan kita dua hal, orang yang selalu berbicara tentang kebenaran tidak menjamin mereka juga memiliki hati yang benar. Kedua, aktif melayani Tuhan tidak sama dengan menaati sabda Tuhan. Sehingga seringkali dari kita berpelayanan di gereja, namun kita masih saja lalai dalam berperilaku,” ucap Romo Satya. (Monica Florencia/Arie Julia)

“Ada tiga penyebab kebahagiaan yakni kita dengan Tuhan Yang Maha Esa, kita dengan sesama manusia dan kita dengan lingkungan. Jangan sampai hubungan kita dengan alam tidak dijaga dengan baik. Mari kita berikan imbas kasih sayang untuk sekitar kita walau hanya secuil. Dan dari semua agama, intinya adalah kembali ke cinta kasih,”
-I Gusti Ketut Budiartha, S.Ag., M.Pd.H.-

Ragam Budaya dan Agama di Indonesia

Hari Kedua, para peserta diajak berkeliling menuju Pondok Pesantren (ponpes) Tebuireng, Jombang dan Gereja Pohsarang, Kediri untuk mengenal keragaman budaya dan agama di Indonesia.  Sesampainya di Ponpes Tebuireng mereka disambut oleh Iskandar, Kepala Pondok Pesantren; Roziki, Kepala Madrasah Aliyah Tebuireng dan Kyai Hanan Mudir Mahad Aly Tebuireng. Ketiganya sependapat bahwa kunjungan peserta ISC ke ponpes Tebuireng bukan satu-satunya yang berasal dari agama non-islam. “Sebagai sesama umat beragama, kita harus bisa saling menghormati. Kita dapat mencerminkan kebaikan ajaran kita masing-masing lewat perbuatan kita,” jelas Iskandar. Tak hanya mengunjungi ponpes, para peserta diberi kesempatan untuk mengunjungi makam Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Perjalanan pun berlanjut ke Gereja Pohsarang, Kediri yang memiliki arsitektur unik. Para peserta diajak untuk mengenal sejarah dari Gereja Puhsarang yang disampaikan oleh Daniel selaku Pengurus Gereja Pohsarang, kemudian berkeliling ke dalam gereja Pohsarang, melihat Gua dan Patung Maria yang berada di bukit.

Malamnya, para peserta berlomba untuk menyuguhkan penampilan paling menarik yang bertemakan Hari Sumpah Pemuda atau Hari Pahlawan. Mulai dari bernyanyi lagu kebangsaan, menari tarian tradisional, musikalisasi puisi, hingga drama musikal. Seluruh tampilan sangat menunjukkan totalitas peserta, terlihat dari materi serta kostum yang telah mereka siapkan. Semakin malam suasana semakin meriah, gemuruh tepuk tangan mengiringi penampilan peserta dari masing-masing universitas. “Berbagai penampilannya sangat menarik, saya juga sempat terharu melihat kesungguhan peserta dalam membawakan puisi yang sungguh indah,” kata Kuncoro Foe, Rektor UKWMS yang hadir pada malam hari itu.

Pada hari ketiga, atau hari terakhir peserta mengawali hari dengan melakukan mancakrida (outbond) untuk saling merekatkan kebersamaan antar kelompok. Terdapat lima permainan yang harus dilalui, yakni Triangle, Penjinak Bom, Human Lader, Stick Ball dan Water Rescue. Usai berlelah dengan outbond terdapat materi Sambung Rasa terakhir yang dibawakan oleh Gus Aan Anshori dan Kuncoro Foe. “Banyak penganut Islam yang mengakui dan menyetujui Pancasila, tetapi ingin mendirikan negara Islam. Hal ini sangatlah bertentangan karena kita tidak hidup dengan satu agama saja disini,” ucap Gus Aan. Ia ingin mengajak dan merangkul agar umat muslim dapat menjadi lebih toleran kepada agama lain, dan menjadi lebih moderat. (Monica Florencia/Arie Julia)

 

Seluruh peserta ISC APTIK 2019 berfoto bersama di depan Gereja Pohsarang Kediri-rsz
Seluruh peserta ISC APTIK 2019 berfoto bersama di depan Gereja Pohsarang Kediri-rsz