Saya Widya Mandala, Saya Indonesia, Saya Pancasila

Saya Widya Mandala, Saya Indonesia, Saya Pancasila

(UKWMS-5/6/2017) – Turut merayakan Pekan Pancasila yang digelar pada tanggal 29 Mei hingga 4 Juni 2017 Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) menyelenggarakan kegiatan Apel Kebangsaan pada 2 Juni 2017 dengan melibatkan segenap sivitas akademika dan tenaga kependidikannya. Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo menyatakan, Pekan Pancasila digelar untuk menguatkan dan memperkenalkan ulang dasar-dasar Pancasila dan untuk menarik minat para generasi muda terhadap Pancasila. “Sehingga diharapkan seluruh komponen bangsa Indonesia dapat menerapkan nilai-nilai Pancasila ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” tulis Jokowi di akun Instagram, seperti dikutip Kompas.com, Senin (29/5/2017).

Apel Kebangsaan UKWMS dengan tema ‘Merawat Pancasila dan Menjaga Keutuhan NKRI’ dipimpin langsung oleh Drs. Kuncoro Foe, G.Dip.Sc., Ph.D., Apt selaku Rektor. Peserta Apel Kebangsaan adalah mahasiswa angkatan tahun 2016 yang berasal dari semua fakultas di lingkungan UKWMS. Seluruh peserta Apel kompak mengenakan atasan kemeja putih dan bawahan berwarna hitam. Uniknya, berbagai macam atribut bertema merah putih juga mereka kenakan. Di antara mereka yang paling mencolok antara lain perwakilan Fakultas Kedokteran, Fakultas Teknologi Pertanian, dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang membawa balon berwarna merah atau putih dan di lengan kanan atas mereka diikat pita merah putih. Lalu perwakilan Fakultas Bisnis yang hadir dengan mengenakan hasduk merah putih, dengan balon putih untuk kelompok ganjil dan balon merah untuk kelompok genap. Disusul dengan perwakilan Fakultas Ilmu Komunikasi yang mengenakan slayer FIKOM dan pita merah putih, pada laki-laki dikenakan di tangan kanan sebagai gelang, sedangkan pada perempuan diikatkan di kepala sebagai bando.

Melalui sambutannya yang berapi-api, Kuncoro mengingatkan seluruh sivitas akademika dan tenaga kependidikan UKWMS untuk bertindak aktif dalam merawat Pancasila dan menjaga keutuhan Bangsa dan Negara Indonesia. “Rasa kekeluargaan, rasa persatuan, persaudaraan yang ada di Universitas kita ini sudah dipupuk dan ditanamkan sejak dari awal UKWMS berdiri di tahun 1960,” ujar Kuncoro. Semangat kebhinekaan ini bahkan sangat jelas termaktub dalam visi UKWMS yakni “Terbentuknya komunitas akademik yang reflektif, kreatif, dan berdampak positif bagi peningkatan kehidupan sesama, serta dilandasi oleh nilai-nilai Pancasila dan prinsip-prinsip Katolik”.

Usai menyampaikan pidatonya, Kuncoro lantas mengajak seluruh peserta upacara untuk mengucapkan komitmen ‘Merawat Pancasila dan Menjaga Keutuhan NKRI’. Sontak halaman Kampus Dinoyo UKWMS bergemuruh dengan gelegar suara ribuan orang yang lantang menyebutkan nama mereka masing-masing dan dilanjutkan dengan ‘saya Widya Mandala, saya Indonesia, saya Pancasila.’ Seakan tak kenal letih, di akhir Apel seluruh peserta menyanyikan bersama-sama lagu “Garuda Pancasila” yang disambung dengan “Saya Indonesia, Saya Pancasila”. (Val/Red)

 

Menginternasionalkan Pancasila

Pada hakekatnya, seluruh institusi pendidikan termasuk universitas memiliki peranan penting dalam merawat Pancasila dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sangat memprihatinkan ketika baru-baru ini ada berita mengenai calon Rektor suatu universitas swasta yang terindikasi mendukung gerakan ISIS. Pemerintah tentu saja harus mengambil tindakan dan tidak mengherankan ketika muncul wacana bahwa Rektor akan dipilih oleh Presiden.

Menanggapi hal tersebut, Kuncoro Foe selaku Rektor Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) berpendapat bahwa ”prinsip tata kelola di perguruan tinggi adalah meritokrasi dan bukan demokrasi. Rekomendasi dari anggota Senat Akademik Perguruan Tinggi tentunya tetap penting dengan mempertimbangkan hasil fit and proper test dari setiap calon Pimpinan Perguruan Tinggi, namun bukan menjadi keputusan akhir”.

Pada saat Apel Kebangsaan ‘Merawat Pancasila dan Menjaga Keutuhan NKRI’ yang dilaksanakan di Kampus Dinoyo UKWMS pada hari Jumat, 2 Juni 2017 lalu, panitia memutar rekaman pidato Presiden Soekarno pada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sebagian dari isi pidato tersebut adalah mengenai lahirnya Pancasila yang tercantum di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

“Kita perlu meneladani Bung Karno yang tanpa ragu dan penuh rasa bangga memperkenalkan Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia ke kancah internasional. Tentu bukan sekedar menerjemahkan sila-silanya ke dalam bahasa Inggris, tapi kita semua perlu menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam perilaku berbangsa dan bernegara. Cara menunjukkannya, antara lain mengharumkan nama Bangsa dan Negara Indonesia melalui torehan prestasi di kancah internasional dengan membawa nilai-nilai kebhinekaan Indonesia,” tandas Kuncoro.

Domingo Enrique Grande, warga Spanyol yang sedang menjadi volunteer di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UKWMS turut serta mengikuti Apel Kebangsaan dari awal hingga akhir. Meskipun dibawakan dalam Bahasa Indonesia yang masih belum fasih ia kuasai, pria yang akrab disapa sebagai Domi ini mengaku terkesan dengan kekhidmatan dan antusiasme para peserta Apel.

Pancasila is very good for Indonesia, because it promotes co-existence between many religions and many races. Especially nowadays when we face issues due to the radicalism in the world. This is the best thing for you, living together in peace and harmony (Pancasila sangat baik untuk Indonesia, karena mempromosikan hidup berdampingan antar pemeluk agama dan suku bangsa. Terutama saat ini ketika kita menghadapi banyak permasalahan dunia karena radikalisme. Ini adalah hal yang terbaik bagimu, hiduplah dalam harmoni dan kedamaian),” ujar Domi. (Red)