Teknologi Digital Bukan Lagi Pilihan

Teknologi Digital Bukan Lagi Pilihan

(UKWMS-10/08/2018) – Ungkapan bahwa teknologi bak pisau bermata dua bukan sekedar kiasan belaka. Indonesia kini memasuki Revolusi Industri 4.0. Artinya, sekarang adalah eranya teknologi digital. Tidak bisa dipungkiri, teknologi digital kini telah merevolusi seluruh sendi kehidupan, dan melahirkan peradaban baru. Beragam jasa transportasi, belanja, hingga keuangan dan perbankan pun berlomba-lomba menyediakan layanan versi digital. Beberapa contoh kacaunya teknologi seperti membeli makanan bisa melalui aplikasi; jasa pemesanan ojek dengan system daring; belanja tidak perlu ke mall, cukup melalui laman; memesan tiket perjalanan bisa melalui ponsel pintar; bahkan muncul pula inovasi robot yang menyerupai manusia dan bisa menggantikan peran pasangan.

Menyikapi hal ini dan agar para mahasiswa mengetahui langsung situasi di lapangan, Sekolah Pasca Sarjana Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) menggelar kuliah perdana bagi mahasiswa baru. Topik yang diusung adalah Kepemimpinan dan Manajemen Sumber Daya Manusia dalam Entitas Bisnis di Era Disrupsi Teknologi. Narasumber yang dihadirkan yakni Direktur Utama PT Bank BPD DIY Drs. Bambang Setiawan, Ak., M.B.A., dengan didampingi moderator Dr. Mudjilah Rahayu, MM yang merupakan Ketua Program Studi Doktor Ilmu Manajemen UKWMS.

Bambang Setiawan (Kiri) bersama M“Siapa yang setiap pagi bangun tidak lihat ponsel? Sederhana karena di ponsel ada alarm yang membangunkan kita. Lalu muncul bitcoin yang merupakan musuh pemerintah, karena dilarang. Mengapa? Karena bisa menjadi mata uang baru, bahkan di salah satu kota di Eropa ada yang menjadikan bitcoin sebagai nilai tukar. Bank pun kini terganggu oleh fintech (financial technology-red), namun di Jogja masih dibutuhkan kantor dan banyak yang antri,” ungkap Bambang mengawali materi.

Sejumlah data terkait pertumbuhan pengguna internet di Indonesia pun di paparkan olehnya, termasuk awal mula revolusi industri pertama. “Kita sudah masuk revolusi industri keempat, masuk peradaban digital. Semua serba digital, lalu kita bagaimana? Kita harus melek digital, jangan sampai tertinggal. Hal ini mau tidak mau karena sudah peradaban digital,” jelas Bambang. Ayah tiga orang anak ini pun merasakan sendiri, perbedaan ketika dirinya masih menempuh pendidikan lanjut tahun 90-an di Negeri Paman Sam, orang-orang yang naik kereta masih bercengkrama. Namun ketika ia mengunjungi anaknya yang berkuliah di Negeri Ginseng tahun 2018 ini, dan merasakan berkeliling menggunakan kereta, semua penumpangnya tampak menatap gawai masing-masing, alias tidak ada yang bercengkrama. Melalui hal ini tercermin bagaimana teknologi mendisrupsi kehidupan kita.

Lain halnya dengan di Jogja, masih banyak orang yang mengantri termasuk di bank karena banyak generasi baby boomers atau pensiunan. “Kebanyakan dari mereka juga kami himbau untuk mengirimkan uang beralih ke sistem daring dan mengajarkan caranya, tapi mereka merasa tidak enak kalau belum bertemu secara langsung untuk memberikan uangnya. Sehingga kantor-kantor cabang masih dibuka layanannya. Tetapi jangan keburu senang jika di bank banyak yang antri, lihat dulu usia berapa yang antri itu? Adapun ancaman terbesar untuk bank adalah fintech, kami bersama bank lainnya juga meminta kepada Otoritas Jasa Keuangan atau OJK supaya bank boleh punya fintech,” jelas Bambang.

Adanya disrupsi teknologi rupanya menciptakan tata ruang kompetisi baru, salah satunya batas antar sektor industri menjadi kabur. Contoh saja Go-jek bukan industri transportasi karena tidak memliki kendaraan satu pun, kemudian Tokopedia yang tidak memiliki bangunan fisik namun keduanya memiliki platforms. Tak hanya itu, disrupsi teknologi juga menggeser cara-cara bisnis lama seperti kondisi beberapa pusat perbelanjaan juga turut terbengkalai minim pengunjung, mesin faks yang mulai tergeser karena mengirim dokumen maupun kartu ucapan bisa langsung melalui sosial media.

Lantas bagaimana kepemimpinan dan pengelolaan sumber daya manusia dalam peradaban digital ini? “Penelitian Deloitte tahun 2017 memaparkan sebesar 86 persen CEO perusahaan yang diwawancara mengatakan kita harus bersiap menghadapi revolusi industri 4.0. Jadi melek digital dulu, baru pikirkan apa yang bisa kita lakukan. Kedepan harus mengubah pola pikir mengambil keputusan yang lama, menjadi cepat,” tutur pria berkacamata ini.

Melek digital pun dilakukan di bank BPD yang ia pimpin. Transformasi digital bukanlah pilihan, tapi suatu keniscayaan untuk dapat bertahan hidup dalam persaingan industri bank. Total ada tiga transformasi yang dilakukan sebelum menuju transformasi digital, yakni transformasi budaya kerja, visi dan misi; organisasi; dan proses bisnis. “Yang sedang berjalan saat ini adalah yang digital, karena pilihannya inovasi atau mati. Kedepan inginnya agar nasabah bisa mengajukan kredit melalui aplikasi, lalu nanti bank yang akan datang ke nasabah, karena belum bisa seperti fintech. Karena asas perbankan yang terdahulu diubah oleh fintech ini. Sehingga perlu berkolaborasi dengan fintech agar tidak tergerus, sampai OJK mengizinkan baru kami buat sendiri,” jelasnya. Sama halnya dengan UMKM kalau tidak berubah akan kalah oleh mall dan belanja daring, sehingga bank BPD DIY memfasilitasi dengan didirikan laman jogjalapak.com.

Memasuki sesi tanya jawab, muncul pertanyaan dari Grace mengenai bagaimana menjembatani komunikasi antara generasi milenial dengan baby boomers, mengingat keduanya adalah generasi yang jauh beda. “Digital itu keharusan, melek digital menjadi sebuah awal, baru kemudian bergeser. Ketika mereka sudah melek digital, bentuk dalam kelompok-kelompok digital kompetensi, kira-kira solusi apa yang bisa mereka tawarkan di peradaban yang baru ini, untuk kemudian dikembangkan,” pungkas Bambang. (red1)