Tomat dan Menara Manusia Ajarkan Budaya

Tomat dan Menara Manusia Ajarkan Budaya

(UKWMS-5/10/2016) English Department Student Association (EDSA) berkolaborasi dengan Jurusan Pendidikan Bahasa  Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) baru saja menggelar acara yang bertemakan kebudayaan asing pada Sabtu, 24 September 2016. Mengusung tajuk Spanish Culture Day, dan bertempat di Atrium East Coast Centre, acara ini mengenalkan kebudayaan Spanyol melalui keberagaman tradisi, tarian, dan makanan. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa angkatan 2016 dan beberapa dosen FKIP Bahasa Inggris. Pengunjung yang hadir juga ikut menikmati acara ini, walaupun beberapa lebih memilih untuk menonton dari kejauhan.

Acara kali ini melibatkan Gerard Galofre yang merupakan “bule baru” setelah Domingo Enrique Grande yang pada semester lalu sempat bergabung di FKIP Jurusan Inggris. Gerard tak sendirian di acara ini, karena ia bersama Pau dan Jordina. Mereka menjelaskan banyak hal mengenai perayaan-perayaan di Spanyol. Salah satunya, La Tomatina, festival yang diadakan di Kota Valencia di mana para pesertanya akan saling melemparkan tomat. Acara inilah yang sering disebut dengan  perang tomat.

Meski asal usul tradisi tersebut tidak tertulis secara resmi dalam buku sejarah Spanyol, kehebohan yang ditimbulkan saat warga saling melempar tomat matang di jalanan memicu perhatian banyak orang. Sadar akan manfaat kegiatan tersebut dalam segi pariwisata, pemerintah setempat di kawasan Bunol, Valencia lantas menjadikannya sebagai kegiatan rutin. Turis maupun warga ramai-ramai berjibaku saling menimpuk tomat ke siapapun yang berani menampakkan diri di sekitar lokasi diadakannya La Tomatina. Usai  festival, tomat-tomat yang lumat melumuri jalanan, warga serta turis itu kemudian disemprot dengan selang-selang besar berisi air dari mobil-mobil pemadam kebakaran. Uniknya jalanan justru menjadi lebih bersih setelah La Tomatina, rupanya asam yang berasal dari buah tomat menjadi semacam disinfektan alami.

Hal menarik berikutnya adalah ketika Jordina berdiri di bahu Pau untuk menunjukkan Castellers, menara manusia. “Castellers merupakan tradisi yang dilakukan di berbagai festival di berbagai lokasi di Kota Catalunya,” ungkap Gerard. Tradisi tersebut ternyata bermula sejak abad ke-18 dan dimulai di sebuah kota kecil bernama Valls, sekitar 40 kilometer di sebelah barat kota Barcelona. Ternyata, ada aturan khusus dalam membangun membangun menara manusia yang konon menjadi ajang persaingan tersendiri di festival-festival yang diadakan area Catalunya.

 Bagian bawah terdiri dari lingkaran besar dan padat orang-orang yang siap menahan beban orang lain dan bertindak sebagai pondasi menara atau disebut ‘Pinya’. Lingkaran ini pula yang berfungsi sebagai peredam, apabila menara yang dibangun runtuh. Kemudian, bergantung pada ketinggian menara yang ingin dibangun, di atas bahu-bahu yang kokoh membentuk Pinya, berdirilah satu atau dua kelompok orang dalam lingkaran yang disebut ‘Manilles’. Pada lapisan selanjutnya adalah ‘Tronc’, bahasa Catalunya yang artinya batang pohon. Lapisan teratas biasanya hanya boleh diisi oleh mereka yang bertubuh ringan, inilah yang disebut sebagai ‘Anxenta’ dan tugas mereka hanya berdiri beberapa saat seraya mengangkat lengannya untuk memberi hormat pada kerumunan masyarakat. Demikianlah Castellers, sebuah tradisi yang serius dan membutuhkan kerjasama tim luar biasa mengingat resikonya tinggi.

Jordina (atas) berdiri di atas bahu Pau dan dibantu oleh Gerard dan tim FKIP Bahasa Inggris UKWMS untuk membangun Castellers
Jordina (atas) berdiri di atas bahu Pau dan dibantu oleh Gerard dan tim FKIP Bahasa Inggris UKWMS untuk membangun Castellers

Selanjutnya, acara juga dimeriahkan dengan dansa salsa interaktif oleh salah satu anggota EDSA, Rizka Andadari. Hal ini mengundang rasa ingin tahu pengunjung yang lewat, bahkan tak segan beberapa anak-anak ikut menari bersama. Usai menari, kehebohan Spanish Culture Day belum berakhir. Keramaian pengunjung dan peserta acara justru kian memuncak.

Puncak acara ini adalah demo cooking class bersama Gerard. Di kegiatan ini, para peserta juga ikut berpartisipasi langsung dalam membuat Montaditos yang merupakan makanan khas Spanyol berupa roti dengan isian. Keunikan Montaditos dibandingkan roti isi pada umumnya adalah ukurannya yang seruas jari. Cara makan seperti ini memungkinkan orang untuk menikmati berbagai cita rasa seraya menggunakan berbagai macam jenis isian untuk Montaditos mereka. Antusiasme peserta pun terlihat makin semarak saat bersama-sama dengan Gerard, mereka membuat Montaditos ayam dan omelletedari telur.

Dengan diadakannya acara ini, para partisipan khususnya mahasiswa-mahasiswi FKIP Bahasa Inggris UKWMS akan semakin mendapat banyak hal mengenai keterpaparan bahasa dan kebudayaan asing. “Tentu saja hal ini sangat diperlukan karena kita hidup di zaman yang menuntut kesiapan untuk menghadapi aneka gegar budaya. Penguasaan Bahasa Inggris memang menjadi jembatan untuk mempelajari dan memahami aneka budaya asing, meski sembari belajar baik pula memperkenalkan budaya bangsa kita sendiri kepada dunia,” ujar M.G. Retno Palupi M.Pd. selaku Ketua Jurusan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UKWMS.

(Holy Gabriella Sandra/ Vonny K Wiyani)