Dunia Medis Kini Gandeng Robotik

Dunia Medis Kini Gandeng Robotik

(UKWMS-2/12/2018) Sejak bekerja sama di tahun 2014 yang lalu, Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (FK UKWMS) dan Kaohsiung Medical University Hospital (KMUH) Taiwan secara rutin melaksanakan berbagai bentuk kegiatan. Mengawali bulan terakhir tahun ini, pada tanggal 1 Desember 2018 kemarin telah dilaksanakan sebuah kuliah tamu bertajuk “KMUH Featured Medical Services- Intelligent and Tele Healthcare. Acara yang dilaksanakan di ruang Auditorium lantai 1 Tower Barat Kampus UKWMS Pakuwon City tersebut dihadiri oleh ratusan orang yang terdiri dari mahasiswa, dosen, hingga sejumlah perwakilan rekanan kerjasama praktik Rumah Sakit FK UKWMS. Hadir sebagai pemateri adalah Prof. Huang-Ming Hu, MD, Prof. Ching Wen Huang, MD, Prof. Ming-Yii Huang, MD. Ph.D dan Prof. Hung-Lung Ke, MD. Acara dibuka dengan sambutan yang disampaikan oleh Drs. Y.G Harto Pramono, Ph.D. selaku Wakil Rektor 1 UKWMS.

Sebelum kuliah tamu dimulai, perwakilan pihak KMUH yakni Prof Aij Lie Kwan MD., Ph.D yang sekaligus menjabat sebagai President Elect International College of Surgeons (ICS) Global 2018-2020 menyampaikan sambutannya. Ia menyampaikan terima kasih atas kerjasama yang selama ini telah terjalin dengan baik antara FK UKWMS dengan KMUH. Selain kerjasama tersebut Prof. Kwan bahkan sudah pernah melakukan ratusan operasi bersama dengan Prof. Dr. Paul L. Tahalele, dr., Sp. BKTV(K) yang menjabat sebagai President ICS Indonesia Section sejak tahun 2016. “Kami pernah mengoperasi pasien di pulau terpencil di Maluku,” kenang Prof. Paul. Bersama dengan banyak dokter bedah anggota ICS Global lainnya yang berasal dari berbagai negara seperti India, Yunani, Guatemala, Hongkong, Malaysia, Taiwan dan Polandia mereka menolong pasien-pasien di pulau-pulau terpencil di Indonesia dalam program ICS Global Humanitarian Surgery Medical Mission. Sebagai simbolisasi rasa hormat dan ucapan terima kasih, Prof. Kwan lantas mengalungkan medali penghargaan (ICS Medal of Humanitarian Surgery) kepada Prof. Paul Tahalele selaku Dekan FK UKWMS dan dr. Frans Arifin, M.Si., SpB., KBD., FICS., FINACS sekretaris ICS Indonesia Section yang pada kesempatan kuliah tamu tersebut bertugas sebagai moderator.

Selanjutnya Prof. Huang-Ming Hu MD langsung membuka kuliah tamu dengan menyampaikan materi berjudul “The New Era of Therapeutic Endoscopy”. Huang mengatakan, “Endoskopi menawarkan pengamatan yang sangat mendetail atas apa yang terjadi di dalam organ dalam manusia. Dulu prosesnya memang sangat tidak menyenangkan karena pasien harus dimasuki selang-selang, namun saat ini berkat teknologi pasien tinggal menelan sebuah kapsul saja,” ujarnya. Ia pun memaparkan data bahwa kanker termasuk dalam 10 penyakit penyebab kematian terbanyak di dunia, dan kanker yang disebabkan oleh permasalahan organ dalam pencernaan menjadi salah satu kasus terbanyak dalam jumlah kematian yang diakibatkan oleh kanker tersebut. Itulah sebabnya dunia medis harus mengadopsi penggunaan teknologi muktahir untuk meningkatkan kinerja pelaksanaan operasi bedah.

Sesi berikutnya dibawakan oleh Prof. Ching Wen Huang, MD yang merupakan pakar Colorectal Surgeon.
Sebelum Prof. Ching memulai kuliahnya, dr. Frans selaku moderator berkata, “kanker kolorektaal merupakan tantangan tersendiri bagi kami di dunia medis karena angka kambuhnya termasuk yang paling tinggi”. Hal ini menyebabkan dilakukannya terobosan-terobosan baru seperti operasi dengan bantuan robot. Prof. Ching juga menunjukkan video perbandingan operasi yang dilakukan secara manual dan dengan bantuan robot. Video tersebut menunjukkan bahwa operasi dengan bantuan robot terlihat lebih stabil terutama dalam hal melakukan tindakan pemotongan jaringan. Batasan dari operasi yang dilakukan oleh robot adalah harganya yang sangat mahal dan ketersediaan alat yang sangat sedikit (di Indonesia hanya ada satu, dan di Taiwan hanya tiga).

Pada sesi ketiga, Prof. Ming-Yii Huang memperkenalkan Tomo Theraphy Treatment Intensity Modulated Radiotherapy (IMRT). Jika dibandingkan terapi radiasi yang sebelumnya lazim dipergunakan, cara ini terbukti lebih baik kinerjanya. Alat tersebut tercatat sangat efektif dalam merawat kanker prostat namun juga bekerja dengan baik untuk menerapi kanker otak maupun paru paru. Kelebihannya adalah bagian yang diradiasi bisa dibuat lebih spesifik di sekitar jaringan kanker, sehingga tidak perlu memakan korban jaringan-jaringan di sekitarnya yang masih sehat. Dokter yang bertugas bahkan dapat melihat ada atau tidaknya perubahan pada kondisi tumor dalam waktu dua minggu penanganan.

Terakhir Prof. Hung-Lung Ke seorang spesialis dalam bidang urologi berbagi pengalamannya melakukan operasi dengan bantuan alat robotik yang rasanya hampir mirip dengan bermain video game. “Berkat kemajuan teknologi, jika sebelumnya untuk mengoperasi sebuah ginjal kita harus melakukan irisan di beberapa titik pada tubuh pasien, saat ini hal itu bisa dilakukan dengan membuat irisan sepanjang 3cm saja tepat di bawah pusar. Pasien bahagia, keluarganya bahagia dan kita pun bahagia,” ujarnya sambil berkelakar di depan audiens. Pada kesempatan yang sama, Prof. Hung juga mengajak warga FK UKWMS yang tertarik belajar melakukan operasi robotik untuk datang ke KMUH serta melakukan praktik maupun penelitian bersama.

Menanggapi fenomena operasi medis dengan bantuan robot yang dipaparkan dalam kuliah tamu, Prof. Willy F. Maramis, SpS., SpKJ(K) selaku Ketua Komisi Etik Penelitian FK UKWMS pun merasa tertarik. “Teknologi operasi dengan robot sangatlah bagus dan maju, namun yang dioperasi tetaplah manusia. Jadi apakah ada tindakan pencegahan atas penanganan masalah psikologis yang timbul karena pasien merasa dioperasi oleh robot alih alih seorang dokter?” tanyanya. Prof. Hung menjawab pertanyaan tersebut dengan menerangkan bahwa robot di dalam operasi tersebut hanyalah menjadi alat, tetap harus dimanipulasi oleh dokter yang juga harus berada di ruangan yang sama dengan pasien yang sedang dibedah. Memang dibutuhkan waktu dan perhatian lebih untuk meyakinkan pasien dan keluarganya bahwa metode tersebut aman dan secara statistik tingkat keberhasilannya bahkan lebih tinggi daripada operasi bedah manual. “Siapapun yang ingin menguasai ilmu bedah robotik seharusnya memiliki kompetensi operasi laparoskopi yang baik, agar benar benar mengenal kondisi organ dalam pasiennya. Seorang dokter yang baik akan bisa menguasai keahlian tersebut dalam 5 tahun,” terang Prof. Hung di penghujung acara. (Red)