Hari Disabilitas Internasional: Alunan dalam Keberagaman

Hari Disabilitas Internasional: Alunan dalam Keberagaman

(UKWMS-1/12/2019) – Tanggal 3 Desember merupakan Hari Disabilitas Internasional yang diperingati oleh seluruh masyarakat dunia. Kali ini, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Surabaya berkolaborasi dengan Awaken Organizer Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (FIKOM UKWMS) berkesempatan memeriahkan peringatan Hari Disabilitas Internasional 2019 ini.

Bertemakan Beauty in Diversity, masyarakat Surabaya pada khususnya diajak untuk menyaksikan penampilan teman-teman disabilitas dalam perhelatan konser amal dan juga lelang karya seni dari empat pelukis yang di antaranya penyandang autis dan down syndrome. “Makna dari Beauty in Diversity ini sebenarnya ingin menonjolkan keindahan dalam sebuah perbedaan. Perbedaan yang dimaksud adalah bagaimana saat ini teman-teman disabilitas dianggap sebelah mata dan berbeda dari kita. Maka, kami ingin menonjolkan keindahan yang mungkin belum pernah disaksikan oleh masyarakat,” jelas Grishiella Patricia Liwang selaku Ketua Pelaksana. Sore itu, empat lukisan karya Edward, Vincent, Andrew, dan Celena Aline berhasil dilelang. Deice Hanum Wulan, salah satu pemenang lelang dari lukisan karya Andrew mengaku, “Ada perasaan bangga terhadap lukisan-lukisan tersebut, dan membuat hati saya senang,” jelasnya.

Bertempat di Teater Balai Budaya Surabaya, para musisi disabilitas unjuk bakat mulai vokal, permainan alat musik angklung, keyboard, dan band. Suasana Balai Budaya begitu meriah dan penuh gemuruh tepuk tangan penonton. Para penampil mulai dari Kiki, seorang guru tunanetra di Yayasan Pendidikan Anak-anak Buta (YPAB), Touch Heart Band, yang anggotanya terdiri anak-anak autis, serta M. Hilbram seorang vokalis dan keyboardist tunanetra, lalu Putri Ariani penyandang tunanetra dan Adelina Setiawan yang mengidap Celebral Palsy secara bergantian menghibur penonton dan memeriahkan acara. Amadeus Orchestra semakin membuat suasana konser begitu megah dengan alunan musik yang apik.

Para penonton malam itu tak lupa dibuat terpukau oleh penampilan Kiki, ketika membawakan lagu Time to Say Good Bye, lengkap dengan bahasa Latinnya. Tak hanya sekedar tampil, Putri Ariani pun turut menyampaikan kampanye yang ia susun sendiri. “Kutipan yang saya sampaikan adalah untuk menghilangkan batasan, yang pertama adalah silahkan bertanya (Please Ask). Misalkan tidak tahu tentang difabel bisa bertanya sehingga tidak ada asumsi yang keliru. Lalu yang kedua adalah memahami satu sama lain (Be Understanding), harapannya agar ke depannya tidak ada namanya perundungan, bukan sekedar menghentikan karena kalau menghentikan ibarat rem maka bisa berjalan lagi,” jelas Putri yang kemudian disambut gemuruh tepuk tangan penonton.

Dan melalui konser ini, diserahkan pula donasi dari seluruh keuntungan konser dan hasil lelang kepada Potats, YPAB, Gregory dan Sekolah Luar Biasa Bangun Bangsa. Donasi ini diserahkan langsung oleh Ketua DWP Kota Surabaya dan Dekan FIKOM UKWMS, di penghujung acara. “Kami ingin memberikan ruang bagi teman-teman disabilitas untuk menunjukkan bakat dan juga karya mereka yang luar biasa. Dengan acara Beauty in Diversity ini, besar harapannya akan memberikan dampak positif bagi teman-teman disabilitas dan juga masyarakat Surabaya,” pungkas Chusnur Ismiati selaku Ketua DWP Kota Surabaya.