Inspirasi dari Jepang untuk Pendidikan 4.0

Inspirasi dari Jepang untuk Pendidikan 4.0

(UKWMS-23/11/2018) Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) bekerja sama dengan International IATSS Forum Alumni Association (IIFA) dan didukung oleh Association of Traffic and Safety Sciences (IATSS) Forum Suzuka Japan, sebuah institusi pembelajaran yang didirikan oleh Soichiro Honda, pendiri dari Honda Motor Co. Ltd. dan Takeo Fujisawa menyelenggarakan sebuah seminar sehari bertajuk “Managing Education in the Era of Industry 4.0”. Acara tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara perayaan Dies Natalis ke 58 UKWMS dengan tema “Bersama seluruh komponen bangsa, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya peduli membangun negeri yang bhinneka dengan transformasi sosial melalui kepemimpinan yang visioner dan inklusif”.

Diselenggarakan pada hari Jumat, 23 November 2018 di Ruang Serbaguna Lantai 10 Tower Barat Kampus UKWMS Pakuwon City. Sebagai Ketua Panitia, Dr. V. Luluk Prijambodo, M.Pd menyampaikan alasan pemilihan tema seminar, “sudah sepatutnya kita bersiap, karena dampak dari era Industri 4.0 tidak akan bisa dihindari oleh dunia pendidikan di Indonesia,” kepada para hadirin. Sekitar 150 orang peserta seminar yang datang pada hari itu berasal dari berbagai latar belakang, sebagian besar bekerja di institusi pendidikan baik dalam dan luar negeri se- Asia Tenggara. Meskipun  beberapa datang dari luar Surabaya, seluruh peserta tampak antusias menyimak acara yang menghadirkan empat orang pembicara tersebut dari awal hingga akhir.

Hadir sebagai pembicara pertama adalah Dr. (C),Abdi Hamdani, S.Pd., M.Si., MBA selaku presiden IIFA Indonesia yang menyampaikan materi “Industry 4.0 and its Impact on Education” (Industri 4.0 dan Pengaruhnya terhadap Pendidikan). “Pada era insdustri 4.0 kita tidak memiliki pilihan selain menggunakan teknologi yang merupakan produk khas era ini. Dunia digital mengubah cara orang berpikir, anak saya yang siswa SMP saat ini bisa lebih merasa sedih ketika jumlah pengikutnya di instagram berkurang satu daripada teman sekelasnya berkurang satu,” ujarnya berkelakar tentang pengalaman pribadi. Ia juga menyampaikan bahwa data statistik menunjukkan bahwa sejumlah 97.4% pengguna internet di Indonesia mengakses media sosial.

Mengikuti era Industri 4.0, maka pengelolaan sumber daya manusia pun juga disesuaikan. Jika pada era sebelumnya kinerja diukur dari senioritas, kompetensi, dan potensi, kini sumber daya manusia diharapkan memiliki fleksibilitas, kemampuan berkolaborasi dan bukan sekedar kreativitas dan kemampuan berinovasi. “Mereka juga diharapkan memiliki dampak positif pada lingkungan, inilah yang harus bisa dihasilkan oleh institusi pendidikan,” tambah Abdi. Siswa yang dihasilkan harus mampu bekerja musiman, untuk kualitas yang mungkin tak terukur. Ia menekankan kepada pelaku industri pendidikan agar jangan lagi hanya mendidik seseorang untuk menjadi pekerja dengan upah rutin harian atau bulanan. “Kalau itu yang dilakukan tidak heran banyak sarjana bekerja menjadi pengemudi transportasi online,” tambahnya. Pesannya adalah bagaimana membuat industri 4.0 bukan menjadi ancaman bagi mereka tapi justru jadi kesempatan.

Mendukung hal yang sudah disampaikan oleh Abdi, pembicara kedua yakni Prof. Dr. F.X. Eko Armada Riyanto, CM menyampaikan materi Education Leadership in the Context of Industry 4.0. “Sebagai pendidik, kita harus menghindari terjadinya siswa yang hanya bisa menjadi penikmat teknologi. Guru harus mengerti sistem teknologi yang digunakan dalam industri 4.0. Buatlah siswa sadar bahwa kondisi lingkungan tempat mereka hidup adalah bagian dari tanggung jawab mereka juga,” tandasnya.

Lebih lanjut Armada juga menyarankan agar peserta seminar belajar filsafat, “agar karyamu menjadi sebuah karya yang berbicara kepada masyarakat. Jika anda seorang insinyur sekalipun, tanpa memiliki filosofi kita hanya akan menjadi ‘tukang’, bisa membuat sesuatu yang bagus tapi maknanya tidak ada atau tidak sampai ke masyarakat”. Ia juga mengingatkan pentingnya mempertahankan nilai-nilai tradisional kebudayaan Indonesia. Menurutnya hal yang bisa kita pelajari dari bangsa Jepang yaitu meskipun mereka maju dalam hal teknologi namun berhasil mempertahankan tradisionalitas mereka sehingga tidak kehilangan identitas.

Pembicara ketiga adalah Prof. Fumihiko Adachi selaku Steering Committee Member of IATSS Forum, Professor Emeritus Kinjo Gakuin University yang menyampaikan topik ‘Para Pemimpin dan Kepemimpinan di Asia dan Jepang’. “Terjadi suatu perubahan yang positif di era Industri 4.0 ini, karena terbukanya akses pendidikan tinggi baik bagi laki-laki maupun perempuan di Jepang. Masyarakat Jepang kini jauh lebih menghargai perempuan, bahkan bisa jadi Jepang akan segera memiliki pemimpin perempuan untuk pertama kalinya. Perubahan ini juga terlihat di kancah global, kesenjangan jumlah pemimpin laki-laki dan perempuan sepertinya akan segera menyempit” ujarnya terkait peran pemimpin perempuan. Turut hadir bersama Adachi pada acara tersebut adalah Yuichi Hirono, Ichiro Uekusa, dan Lee Taehoon yang juga merupakan perwakilan dari IATSS.

Drs. Kuncoro Foe, G.Dip.Sc., Ph.D., Apt. selaku Rektor UKWMS sekaligus pembicara keempat dalam seminar sehari tersebut menyampaikan tentang pentingnya sistem penjaminan mutu internal bagi institusi pendidikan dalam peningkatan kualitas pendidikan bagi masyarakat. Terkait sistem penjaminan mutu yang dibahas oleh Kuncoro, UKWMS tahun ini juga menjadi satu-satunya universitas di Jawa Timur yang meraih penghargaan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI Award) dari Kemenristekdikti. “Fokusnya bukanlah demi meraih penghargaan, namun sebagai pendidik kita memang harus bisa menyediakan apa yang dibutuhkan oleh para pelajar. Era industri 4.0 memudahkan dalam mencari informasi, namun tanpa penguasaan softskill yang dibutuhkan, belum tentu setelah lulus mereka bisa bertahan dalam kompetisi global,” ujarnya menutup peyampaian materi. (Red)