Lily Magan: Raih Kesuksesan dengan Kegigihan

Lily Magan: Raih Kesuksesan dengan Kegigihan

(UKWMS-12/01/2018)-Kesuksesan tidaklah diraih dengan cara yang instan. Dibutuhkan sebuah kegigihan dan kerja keras dalam meraihnya. Kadangkala kegagalan harus didapatkan sebelum meraih kesuksesan. Inilah yang disampaikan oleh Lily Magan, CPC, COBGC. Alumni Jurusan Manajemen Fakultas Bisnis Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) angkatan 1998 ini membagikan kisah suksesnya berkarir di negara adikuasa kepada para mahasiswa di Auditorium A301 Kampus Dinoyo (12/1).

Acara yang diadakan Fakultas Bisnis UKWMS dengan tema “Sharing Successes Story” ini menjadi momentum bagi Lily untuk membagikan perjalanan karirnya dari awal hingga sukses berkarir di Amerika Serikat. Usai menyelesaikan kuliah jurusan manajemen di UKWMS, ia sempat berprofesi sebagai sales assistant yang kemudian berganti menjadi export manager di Indonesia. “Pada saat itulah saya mulai sering berpergian ke luar negeri. Pertama kali saya pergi ke Amerika Serikat tepatnya di kota Chicago. Saya merasa kok enak ya. Dari situlah saya memutuskan untuk pindah ke Amerika tahun 2005,” ujar perempuan yang mengambil konsentrasi bidang keuangan untuk kuliahnya tersebut.

Berpindah negara tak membuat Lily berhenti berkarir. Ia pun memilih untuk melanjutkan karirnya dalam bidang health care. “Semua orang, tua dan muda pasti pernah sakit. Saya berpikir untuk jangka panjang, karir dalam bidang kesehatan seharusnya akan menjamin masa depan saya. Namun saya takut dengan darah, maka saya memilih profesi yang ada dalam bidang kesehatan namun bekerja di balik meja, daripada kalau saya menjadi suster nanti malah saya yang pingsan,” ungkap Lily setengah berkelakar meski serius menjelaskan alasannya berkarir dalam bidang kesehatan.

(UKWMS-12/1/2018) Fobia akan darah tak menjadi halangan baginya untuk memulai karir dalam bidang health care maupun bekerja di rumah sakit. Lily bahkan melihat peluang bagus yang bisa ia dapatkan. ”Di Amerika ke dokter tidak perlu bayar karena adanya asuransi. Diagnosis yang diberikan oleh dokter kepada pasien akan diberikan kepada pihak asuransi dalam bentuk medical billing dan coding. Maka dari itu dibutuhkan orang yang mampu menerjemahkan pasien chart tersebut menjadi billing dan coding,” kata perempuan yang saat ini tinggal di Manhattan, New York tersebut.

Dekan Fakultas Bisnis Lodovicus Lasdi memberikan cindera mata untuk Lily Magan
Dekan Fakultas Bisnis Lodovicus Lasdi memberikan cindera mata untuk Lily Magan

Sebelum menjalankan profesinya, Lily harus mendapatkan dua sertifikasi, yakni Certified Medical and Billing dan Certified Profesional Coder. Ia berhasil mendapatkan Certified Medical and Billing dari Hunter College dalam waktu sembilan bulan. Namun ia merasa bahwa memegang sertifikasi medical billing saja belumlah cukup, sehingga masih harus menaikkan level dirinya agar bersertifikasi pula di bidang medical coding.

Perjalanannya dalam meraih Certified Profesional Coder membuatnya sempat frustasi. Untuk mendapatkan sertifikasi tersebut, skor minimum yang harus didapatkan sebesar 70%. Setelah dua kali mencoba, ia hanya bisa mendapatkan skor sebesar 69%. Setelah ketiga kalinya mencoba, Lily pun berhasil mendapatkan Certified Profesional Coder dari Advancing the Business of Healthcare (AAPC).

Sertifikasi ternyata belumlah cukup untuk mewujudkan keinginannya menjadi medical coder. Ketika melamar di Maternal Fetal Medicine Associates, Lily diharuskan memberikan transkrip nilai dalam bentuk bahasa Inggris. “Saya takut karena sudah hampir 20 tahun saya lulus. Apalagi calon pemberi kerja mengatakan bahwa jika data belum tersedia, maka keputusan mempekerjakan saya pun terpaksa harus ditunda. Akhirnya saya mencoba mencari info lewat website UKWMS dan menghubungi Pak Lodo (Dekan Fakultas Bisnis, Red). Syukurlah Pak Lodo dan UKWMS bisa membantu saya dalam mengonfirmasi bahwa saya memang alumni UKWMS serta memberikan transkrip nilai disertai legalisir tersebut. Ternyata, gelar S1 yang saya dapatkan di UKWMS diakui setara Bachelor Degree di Amerika,” ungkapnya yang kemudian disambut dengan tepuk tangan oleh seluruh audiens.

Kesuksesan yang diraih oleh Lily didasari oleh tiga kunci utama. “Yang paling penting adalah kalau kita fokus pada apa yang kita lakukan, pasti akan ada hasilnya. Setelah mendapatkan sertifikasi, saya berusaha tetap humble dan belajar terus-menerus. Pasti ada kegagalan, tetapi harus mencoba lagi. Kunci sukses adalah harus disiplin, lalu passion; yang tidak selalu hadir dalam bentuk hobi kita namun justru dari menikmati dan mengusahakan yang terbaik dalam menjalankan pekerjaan yang kita miliki, serta integritas. Soal integritas ini, justru saya dapatkan ketika mengikuti perkuliahan wajib tentang Pancasila, jadi kalian yang masih mahasiswa janganlah berpikir bahwa muatan-muatan seperti itu tidak berguna nantinya saat benar-benar dipakai bekerja,” pungkasnya menutup sesi sharing. Setelah selesai membagikan kiat suksesnya, Lily mendapatkan souvenir dari Dr. Lodovicus Lasdi, MM., Ak., CA., selaku Dekan Fakultas Bisnis UKWMS yang kemudian ditutup dengan foto bersama. (Val/Yov/Red)