Manfaatkan Limbah Cangkang Telur untuk Perenyah Keripik

Manfaatkan Limbah Cangkang Telur untuk Perenyah Keripik

Keripik merupakan salah satu produk makanan ringan yang digemari oleh konsumen, karena khas dengan bentuknya yang tipis dan bertekstur renyah. Umumnya untuk meningkatkan kerenyahan keripik, industri pangan menggunakan larutan kalsium klorida untuk merendam irisan bahan mentah. Kalsium klorida komersial kebanyakan diproduksi dari batu kapur dan dihasilkan oleh industri besar dengan menambang. Penasaran akan sumber kalsium klorida lainnya yang food grade (aman untuk dimakan) dan mudah didapat, David Tjandra Nugraha pun berinovasi dengan memanfaatkan limbah pangan cangkang telur. Pertimbangan yang mendasari karena jumlahnya yang kian meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah pelaku usaha pangan. Selain itu, mengolah limbah menjadi produk yang lebih bermanfaat serta food grade juga memberikan kontribusi positif untuk kelestarian lingkungan.

Cangkang telur termasuk limbah pangan yang selama ini masih belum banyak dimanfaatkan. “90% kandungan dari cangkang telur adalah kalsium; artinya bisa menjadi salah satu sumber kalsium terbaik,” ungkap David. Memanfaatkan hal ini, akhirnya bersama beberapa rekan mahasiswa jurusan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (FTP UKWMS), ia melakukan proses ekstraksi hingga berhasil memisahkan sebagian kalsium yang ada pada cangkang telur.

Penelitiannya sendiri sudah dimulai saat David masih semester enam. Kala itu ia mengangkat topik utama pemanfaatan limbah cangkang telur untuk peningkatan mutu produk pangan dalam sebuah seminar nasional. “Kalau hanya berupa kalsium saja tentu belum bisa dimanfaatkan langsung, maka saya lanjutkan hingga memanfaatkan kalsium cangkang telur tadi ke proses pengolahan pangan yaitu pembuatan keripik. Kalsium cangkang telur hasil ekstraksi kami berhasil meningkatkan kerenyahan dari keripik yang kami buat,” urai David yang dibimbing oleh Dr. rer. nat. Ignasius Radix Astadi Praptono Jati dan Ir. Adrianus Rulianto Utomo dalam skripsinya.

Pengalaman tak terduga dan kendala pun tak luput selama penelitian. Ia dan rekan-rekannya harus mencari cangkang telur di pengolahan makanan terdekat seperti toko roti, restoran mie, dan semacamnya. Setelah didapat cukup banyak, muncul kendala karena mereka harus membersihkan sisa telur dan mengecilkan ukurannya agar bisa diekstraksi. Prosesnya butuh waktu dan dedikasi, karena selama seminggu penuh dan bahu membahu, mereka membersihkan sekitar 1500 cangkang telur ayam. Kendala lainnya adalah saat hendak melakukan analisa terhadap kemurnian kalsium hasil ekstraksi. “Karena pemanfaatan kalsium cangkang telur untuk berbagai pengolahan pangan belum pernah ditemukan sebelumnya, butuh waktu agak lama melakukan trial and error dalam menentukan metode analisa yang sesuai,” paparnya.

Meskipun saat ini belum dapat diaplikasikan untuk skala komersial, David berharap penelitian ini membuka kemungkinan pemanfaatan kalsium dari sumber lainnya. Penelitiannya juga dapat menjadi dasar bagi penelitian lain yang ingin memanfaatkan limbah pangan terutama cangkang telur. Ia berharap akan ada koordinasi yang baik antara pemilik usaha pangan yang menghasilkan limbah pangan sehingga limbah berupa cangkang telur nantinya dapat dimanfaatkan dan tidak lagi menjadi limbah.

Meneliti dan berinovasi sudah merupakan suatu bentuk prestasi, namun David ingin selalu memberikan lebih termasuk aktif berorganisasi. Tahun 2017 ia dipercaya menjadi panitia acara International Food Conference (IFC). Pada tahun yang sama, ia meraih Juara III mahasiswa berprestasi tingkat Kopertis VII (kini LLDIKTI wilayah 7) mewakili UKWMS. David mengaku bangga atas capaian itu karena bisa meneruskan tradisi UKWMS untuk meraih juara mahasiswa berprestasi. Prestasinya di tingkat nasional juga luar biasa, ia terpilih sebagai Best Presenter dalam acara Food Student Conference 2017 yang diselenggarakan oleh Unika Soegijapranata Semarang dengan membawakan topik skripsinya.

Pemuda asli Surabaya ini memiliki kiat mengatur waktu yang sederhana namun efektif. Sebagai anggota Badan Eksekutif Mahasiswa selama tiga periode, ia selalu mengerjakan semua tugasnya jauh-jauh hari dan secepatnya. “Jangan menunda pekerjaan hingga menumpuk. Pisahkan antara pekerjaan kampus maupun tugas organisasi, jangan mengorbankan salah satu. Berorganisasi adalah pilihan dan tanggung jawab jadi juga harus dijalani sepenuh hati,” tandasnya. Ia juga menambahkan bahwa untuk setiap pekerjaan, mahasiswa harus mengusahakan bekerja se-efisien mungkin. Bekerja dengan cerdas akan menghemat banyak waktu. Tak kalah penting adalah istirahat yang cukup karena badan yang prima akan memudahkan bekerja. “Jangan melakukan banyak pekerjaan sekaligus karena fokus akan berkurang dan efisiensi kerja akan turun,” ungkapnya.

David kini sedang berencana untuk melanjutkan studi. Bila cita-cita studi lanjutnya terwujud, kelak ia ingin membagikan ilmu yang dimiliki terutama terkait bidang pangan. “Saya berhutang banyak dengan kampus UKWMS dan kalau saya diberi kesempatan kembali ke sini niscaya saya siap pula,” ujar David yang dinobatkan sebagai Wisudawan Aktif Berprestasi pada Upacara Wisuda Semester Genap Tahun Akademik 2017/2018 13 Oktober 2018 mendatang.