Mekarkan Talenta Tersembunyi Lewat Karnaval

Mekarkan Talenta Tersembunyi Lewat Karnaval

(UKWMS-30/3/2016)Perlu diakui bahwa keterpaparan bahasa dan budaya asing di era MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) adalah kebutuhan yang perlu dipenuhi. Tentu bukan sembarang terpapar yang dimaksud, tetapi keterpaparan bahasa dan budaya yang dapat dipertanggungjawabkan dan membawa hikmah. Namun tak bisa dipungkiri pula bahwa pemaparan bahasa dan budaya asing terkadang menimbulkan kekhawatiran dan keengganan karena bentuk penyampaiannya kaku dan tidak asyik.

Menanggapi hal ini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan Bahasa Inggris Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) mengemas pemenuhan kebutuhan tersebut dalam bentuk acara karnaval mini ala Spanyol. Acara yang diselenggarakan pada hari Rabu, 30 Maret 2016 itu menjadi ajang bagi para mahasiswa untuk menggunakan Bahasa Inggris yang telah mereka pelajari di dalam setting kultur yang otentik. Layaknya Karnaval di Spanyol, peserta dihimbau untuk mengenakan kostum yang mereka sukai dan mempersiapkan penampilan dalam bentuk menyanyi, menari, ataupun pameran dalam durasi kurang lebih semenit.

 “Kebetulan memang kami sedang kedatangan tamu penutur Bahasa Inggris dari Spanyol, namanya Domingo Enrique Grande dan momennya pas banget, pas selesai masa ujian tengah semester dan pas setelah libur Hari Raya Paskah. Dari Domi kami baru tahu kalau karnaval di Spanyol itu masih ada hubungannya dengan perayaan Paskah,” ujar M.G. Retno Palupi M.Pd. selaku Ketua Jurusan PSP Bahasa Inggris UKWMS. Di Spanyol, karnaval menyimbolkan tanda perpisahan dengan kesenangan duniawi dan menyambut datangnya Pekan Suci sebagai rangkaian masa Paskah. Karnaval di Spanyol juga menjadi ajang bagi setiap orang untuk menampilkan diri sebagai apapun atau siapapun yang mereka inginkan. “Idealnya memang karnaval ini dilakukan sebelum masa Paskah, namun meskipun terlambat, melalui acara ini beberapa peserta berhasil menunjukkan sisi diri mereka yang biasanya tidak terlihat. Misalnya kreatifitas dan orisinalitas mereka dalam berkarya,” ungkap Domi.

Gloomy Sunday menerima penghargaan dari Johannes L. Taloko selaku salah seorang juri English Department Karnaval

Gloomy Sunday menerima penghargaan dari Johannes L. Taloko selaku salah seorang juri English Department Karnaval

Ada delapan kelompok penampil dan total enam puluh mahasiswa yang meramaikan acara karnaval tersebut. Di antara mereka ada dua penampil yang paling menonjol yakni Gloomy Sunday dan Security Guards. “Kami berlima punya ketakutan terhadap hantu dan untuk melawan rasa takut itu kami sengaja berdandan seperti tengkorak, jerangkong dan sebagainya. Lagu yang kami pilih adalah Gloomy Sunday yang terkenal karena penciptanya bunuh diri tak lama berselang setelah menyanyikannya di radio. Kami ingin menyampaikan agar penonton tidak menyerah pada rasa takut dan depresi, namun dengan tegar tetap menghadapi dan menerimanya,” tutur Ammyersen Sinaga selaku penata rias kelompok Gloomy Sunday yang meraih penghargaan Best Efforts dari para juri meski hanya berbekal cat body painting warna hitam dan lipstik merah untuk menggambarkan efek berdarah-darah.

Jika Gloomy Sunday  tampil mengerikan, sebaliknya Security Guards yang menampilkan kisah pasukan pengawal presiden (Paspampres) dalam melindungi putri presiden terlihat heboh dan seru. Lengkap dengan senapan dan pistol palsu, mereka beraksi di atas panggung diiringi latar belakang suara tembakan pistol beruntun layaknya film-film aksi. Saat tugas mereka berhasil, tiba-tiba mereka berubah menjadi penari-penari yang bergerak luwes menirukan gaya Michael Jackson. Sontak penonton tertawa riuh dan bertepuk tangan, menyaksikan Christyo Ekaputra yang terkenal pendiam dan pemalu di kelasnya ternyata jago menari di atas panggung.

“Karnaval ini memang baru pertama kali diadakan, tapi sepertinya tahun depan perlu diulang lagi karena terbukti berhasil membuat mahasiswa menunjukkan kemampuan mereka yang terpendam. Tampil beda juga tidak selalu membutuhkan biaya mahal Selain itu mereka juga jadi terlatih menggunakan Bahasa Inggris untuk suasana budaya yang sama sekali berbeda dengan budaya mereka sendiri,” ujar Maria Josephine K. selaku salah seorang juri di akhir acara. (Red)