PANCASILA TIDAK SEMPURNA

PANCASILA TIDAK SEMPURNA

(UKWMS 7/6/2017) Pancasila adalah dasar negara kita, Indonesia. Gagasan ini pertama kali diusulkan oleh Ir. Soekarno, sang proklamator kemerdekaan. Menurut beliau, jiwa Pancasila bersifat kekal dan abadi. Beliau juga mengusulkan gagasan ini tidak sembarangan, tapi mempertimbangkan keadaan Bangsa Indonesia.

Pancasila adalah ideologi yang berbeda di antara banyak ideologi. Setelah mengalami banyak percobaan untuk mencederainya, Pancasila tetap berjaya hingga saat ini. Buktinya, gagasan ideologi komunisme, sosialisme, kapitalisme, liberalisme dan landasan agama-agama tertentu seakan hilang lenyap terbawa angin. Lantas, Pancasila masih berdiri, meski kadang tertatih.

Pancasila adalah ideologi negara yang tidak buta terhadap kemajemukan budaya, etnis, suku dan agama. Pancasila menjadi payung “warna-warni” yang melindungi seluruh rakyat Indonesia terhadap serangan gagasan-gagasan yang liar dan mematikan. Pancasila sekaligus menjadi obat yang membalut luka dan borok mereka semua yang terluka karena ideologi lain.

Pancasila yang kita miliki adalah pandangan hidup bersama. Pandangan ini merupakan visi yang memampukan kita memandang masa depan bangsa. Bak rambu-rambu lalu lintas, Pancasila menjadi petunjuk bagi kita dalam menjalani hidup sebagai warga negara Indonesia yang baik. Rambu ini tentu akan membawa kita pada keselamatan demi mencapai tujuan kita bersama, yakni kesejahteraan.

Pancasila memang tidak sempurna. Pancasila memang dibangun di atas negara yang masih belum matang keadaan sosial, politik dan ekonominya. Krisis ekonomi masih kerap terjadi. Begitu pula dengan persoalan sosial, masih banyak terjadi bermacam-macam persoalan yang belum terselesaikan.

Pancasila memang tidak sempurna. Muncul banyak pertikaian yang telah mencederai nilai-nilai Pancasila. Konflik yang mengatasnamakan Tuhan masih menjadi makanan sehari-hari kita. Kasus pelanggaran HAM terjadi di mana-mana. Semuanya itu seakan membuat pesimis kita semua yang menjadi bagian dari negara ini.

Pancasila memang tidak sempurna. Berbagai macam kebudayaan yang unik melukis wajah negara kita. Banyak agama dan aliran kepercayaan lokal mendendangkan satu nada doa yang sama, yakni untuk kemajuan negara ini. Beraneka ras tersebar di seluruh bagian wilayah negara, mulai dari wilayah kota hingga pelosok desa terpencil.

Pancasila memang tidak sempurna. Maka, Pancasila sangat membuka pintu hatinya untuk siap menerima kritikan dan masukan yang membangun. Berbagai tanggapan dan opini diterima oleh Pancasila demi kemajuan dan kebaikan bersama. Apabila Pancasila sempurna, tentu ia akan menjadi sombong sehingga tidak mau menerima masukan.

Ketidaksempurnaan Pancasila tidak sama dengan kegagalan. Ketidaksempurnaan Pancasila adalah usaha dan proses pendewasaan kita semua. Pancasila masih tetap memegang visi yang jelas dalam kelima nilai yang dikandungnya. Tentang kesempurnaan, Pancasila memandangnya sebagai buah di kemudian hari. Yang penting, proses hic et nunc (di sini dan saat ini) menjadi prioritas kerja Pancasila.

Pancasila sedang berusaha sungguh mewujudkan kesejahteraan bagi semua rakyat. Nah, semua usaha ini dapat dipandang sebagai proses menuju kesempurnaan. Itu artinya, ketidaksempurnaan Pancasila adalah usaha dan prosesnya. Bukankah kita juga tidak sempurna? Toh, kita semua sedang berproses menuju kesempurnaan.

Akhirnya, Pancasila dapat menjadi payung sederhana penuh warna yang mampu melindungi kita semua dari segala macam gagasan liar dan radikal yang menyesatkan. Itulah sebabnya, kita semua sedang bersatu dalam ketidaksempurnaan supaya kita dengan rendah hati saling membangun. Tentu saja, kita semua adalah Pancasila dan kita adalah Indonesia. (Krisna Setiawan)