Peritel Harus Cermat

Peritel Harus Cermat

(UKWMS-11/5/2018) – Sektor ritel merupakan sektor ekonomi yang dinamis. Sektor ini ditunjang oleh konsumsi rumah tangga yang masih memainkan peranan terbesar dalam PDB Indonesia, yakni 56,29% di tahun 2017. Di tengah penutupan beberapa outlet toserba, sektor grosir dan ritel sebenarnya masih menikmati pertumbuhan positif (5,35%, Q3 2017). Namun demikian selain tingginya persaingan diantara peritel, terdapat pergeseran-pergeseran perilaku belanja konsumen yang perlu dicermati oleh para peritel. Konsumen saat ini cenderung membelanjakan pendapatannya untuk produk leisure (restoran, perjalanan wisata, rekreasi) ketimbang produk non-leisure (makanan dan fashion). Data juga menunjukkan peningkatan tren penjualan daring di tanah air.

Menghadapi persaingan dan perubahan perilaku konsumen yang demikian diperlukan inovasi dalam desain produk serta strategi distribusi yang tepat. Peritel perlu mempertimbangkan strategi yang tepat, diantaranya dengan memanfaatkan kemajuan teknologi digital, untuk merangkul generasi milenial yang merupakan potensi pasar yang besar. Selain itu pemasaran produk perlu dikemas sedemikian rupa sehingga memberikan nilai tambah baru berupa pengalaman berbelanja yang menyenangkan.

Menanggapi hal tersebut, Program International Business Management, Fakultas Bisnis Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (FB UKWMS) menggelar IBM Business Forum. Bertempat di ruang Bright 1 Harris Hotel Surabaya, hadir sebagai pembicara Eligio P Santos, Ph.D., Director of Entrepreneurial Management Program, University of Asia & the Pacific (UA&P), Filipina. Sebelum bergabung dengan UA&P, ia telah membangun karier yang sukses selama lebih dari 30 tahun di bidang penjualan konsumen, farmasi dan perawatan kesehatan, pemasaran dan distribusi. Diadakan pada Jumat (11/5), Eli menyampaikan materi dengan topik Updates On Retail Distribution Strategy for Consumer Goods dengan dihadiri para pegiat bisnis ritel di Indonesia.

Wahyudi Wibowo saat menyampaikan materi dalam IBM Business ForumForum terlebih dahulu dibuka dengan sambutan dari Dekan FB UKWMS, Dr. Lodovicus Lasdi, MM., Ak., CA., CPAI. yang mengatakan bahwa, diskusi seperti ini bertujuan untuk mengembangkan wirausahawan agar dapat mencapai pasar global. “Dukungan dan bekal dari seseorang yang ahli di bidang bisnis ritel sangat dibutuhkan untuk para pemilik bisnis,” ucapnya. Sesi pertama diawali penjelasan data mengenai bisnis ritel di Indonesia oleh Dr. Wahyudi Wibowo, ST., MM. selaku koordinator IBM. “Mengapa banyak sekali toko ritel yang tutup di tahun 2017? Alasannya adalah karena kerasnya persaingan di dunia ritel sendiri dan menurunnya kemampuan membeli dari konsumen. Zaman sekarang, konsumen lebih memilih membeli “pengalaman” seperti berpergian atau makan-makan,” jelas Wahyudi.

Kemudian masuk ke sesi yang disampaikan Eli Santos, yang menjelaskan strategi untuk bertahan di bisnis ritel yang kini telah menurun angkanya di Indonesia. Ia mengatakan, “percuma saja jika kita beriklan dan promosi segencar mungkin namun produk kita tidak sesuai keinginan pasar. Ketika konsumen tidak menginginkan produk kita, makan penjualan produk juga tidak bisa naik”. Ia pun memberikan lima strategi kunci bagi bisnis ritel agar dapat tetap bertahan, yaitu 1) Smaller retail store format (format toko yang lebih kecil dan mudah terjangkau oleh konsumen), 2) Stronger partnership with big manufactures (menjalin kerja sama dengan manufaktur terpercaya, terutama dalam hal teknologi seperti pembayaran non-tunai), 3) Declining presence of middlemen (hindari kerja sama dengan agen), 4) The rise of convenience stores (berkembangnya mini market), 5) Sachet economy continues for emerging countries (memproduksi kemasan ekonomis).

Adanya perubahan dalam struktur distribusi dan ritel, maka ada tiga aspek bisnis esensial yang perlu untuk terus ditingkatkan yakni: Eksekusi bisnis yang efektif dengan Z-process, Riset konsumen secara berkelanjutan dan Integrasi teknologi terbaru yang efektif. Eli menjelaskan Z-process yang dimaksud adalah eksekusi bisnis yang disusun melalui diagram berbentuk huruf Z terdiri dari sudut kiri atas adalah creator (pemiliki konsep dan ide-ide), sudut kanan atas adalah advancer (menangkap ide dan mencari cara untuk mempromosikan), pada sudut kiri bawah ada refiner (menilai kelayakan ide) dan sudut kanan bawah ada executor (menindaklanjuti tujuan dan mengimplementasikan ide) dan pada bagian tengah terdapat flexer (memantau progress and berkontribusi saat dibutuhkan). “Yang terakhir dan yang paling penting adalah kita harus berbicara kepada konsumen, melakukan riset tentang konsumen, sehingga kita mengerti kebutuhan mereka,” pungkas Eli menutup diskusinya. (red2/red1)