Siagakan Tim Code Blue

Siagakan Tim Code Blue

(UKWMS – 24/07/2018) Code blue adalah kode isyarat yang digunakan dalam rumah sakit yang menandakan adanya seorang pasien yang sedang mengalami serangan jantung (cardiac arrest), atau mengalami situasi gagal nafas akut (respiratory arrest), dan situasi darurat lainnya menyangkut nyawa pasien. Tak hanya code blue, di rumah sakit terdapat kode warna lainnya seperti code red, code black, dan lainnya dengan arti yang berbeda. Fakultas Keperawatan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (F.Kep UKWMS), menggelar Seminar dan Workshop bertajuk “Update in Code Blue Management.” Seminar ini menghadirkan: dr. Ali Haedar, MD, SpEM, FAHA; Kristina Pae S.Kep., Ns., M.Kep; Senja Setiaka, S.Kep., Ns, dan Veronika Antasari, S.Kep., Ns., sebagai narasumber. Berlangsung di ruang A301 Kampus UKWMS Dinoyo, seminar ini diikuti oleh mahasiswa hingga perawat dari berbagai institusi kesehatan.

Sesi pertama disampaikan oleh Haedar yang menjelaskan mengenai konsep dasar dari tim code blue di rumah sakit. Tujuan dibentuknya code blue adalah untuk mempersiapkan pertolongan pertama yang terjadi di tempat tak terduga. Contohnya seperti pasien yang terkena serangan jantung di parkiran atau kamar mandi. Kemudian tim code blue harus menguasai pemberian defibrilasi atau cara yang tepat untuk mengembalikan normalitas jantung, dan Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) yaitu teknik kompresi dada dan pemberian napas buatan untuk pasien yang detak jantung atau pernapasannya terhenti. “Sebenarnya, tim code blue memang diperlukan tetapi akan lebih baik jika seluruh komponen yang ada di rumah sakit dapat mengetahui cara melakukan CPR yang sederhana dan benar sehingga mereka bisa menjadi first responder saat ada kejadian tersebut,” ucap Haedar.

_DSC0462

First responder merupakan orang yang pertama kali bertemu dengan pasien saat terjadi serangan jantung. “Apabila first responder tidak dapat melakukan CPR, resiko pasien untuk meninggal akan lebih tinggi, karena jika otak tidak mendapat suplai oksigen yang lancar selama 10-12 menit akan terjadi kerusakan otak hingga kematian,” jelas Haedar. Selanjutnya Haedar memberikan contoh ritme yang pas untuk melakukan CPR yaitu sekitar 100 – 110 kali per menit. Untuk mempermudah mengingat ritmenya, Haedar menggunakan lagu-lagu untuk menunjang peserta seperti Ampar-Ampar Pisang dan Cublak-Cublak Suweng.

Sesi selanjutnya dilanjutkan Kristina yang juga menjadi dosen di Fakultas Keperawatan UKWMS. Kristina menjelaskan prosedur serta cara melakukan Basic Life Support (BLS) yang tepat. Pertama yaitu Circulation (sirkulasi) dengan cara menekan dada untuk mempertahankan sirkulasi darah. Selanjutnya adalah Airway (jalan nafas) membuka jalan napas dengan mendongakkan kepala dan mengangkat dagu pasien perlahan. Kemudian terakhir adalah Breathing (napas) yaitu memberikan napas buatan dengan cara langsung atau menggunakan masker untuk mengisi paru dengan udara.

Berikutnya sesi presentasi oleh Senja dan Veronika yang memaparkan pentingnya tim code blue di rumah sakit masing-masing tempat mereka bekerja. Mereka juga mempraktikkan cara menangani pasien saat terjadi cardiac arrest oleh tim blue code. Praktek dilakukan menggunakan alat CPR digital dan boneka peraga (phantom) khusus untuk pasien yang membutuhkan CPR. Para peserta sangat memperhatikan dengan detil tindakan yang dilakukan Veronika dalam menangani pasien.  “Yang paling penting dalam tim blue code adalah kerja sama antar tim, harus mengetahui peran masing-masing sehingga dapat membantu pasien dengan cepat dan efektif,” ujar Veronika. Akhir acara ditutup dengan pemberian cinderamata ke masing-masing pembicara.