UKWMS Komit Hentikan Kekerasan melalui Workshop dan Pelantikan Satgas PPKPT

(UKWMS – 22/1/2026) – Maraknya berbagai bentuk kasus kekerasan hingga penyalahgunaan relasi kuasa di lingkungan perguruan tinggi, mendorong pentingnya upaya pencegahan. Karena itu, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), bergerak melalui Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (SatGas PPKPT).

SatGas PPKPT menggelar Workshop Pencegahan dan Penanganan Kekerasan serta Pelantikan Satgas PPKPT. Workshop ini dihadiri oleh dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa UKWMS, berlangsung pada Selasa (20/1) lalu di Ruang A201 UKWMS Kampus Dinoyo. 

Acara diawali dengan sambutan dari Wakil Rektor I UKWMS, Dr. F. V. Lanny Hartanti, S.Si., M.Si. “Melalui workshop dan pelantikan satgas PPKPT, kita bisa menciptakan lingkungan universitas yang aman, nyaman, bebas dari kekerasan. Harapannya agar angka kekerasan di UKWMS bisa menyentuh angka nol,” ujarnya. 

Melalui kegiatan ini, peserta diajak untuk memahami berbagai bentuk kekerasan yang kerap tidak disadari dan dianggap sebagai hal yang wajar. Tujuannya, untuk membangun kesadaran akan pembentukkan dan fungsi SatGas PPKPT. Hal ini juga sebagai upaya menciptakan lingkungan kampus yang aman dan bermartabat.

Workshop ini terbagi dalam empat sesi. Sesi pertama dibawakan oleh Datu Hendrawan, M.Phil., dengan materi tentang Martabat Manusia dan Pemahaman Struktur Sosial sebagai Landasan Pencegahan Kekerasan. “Kekerasan yang hadir di masyarakat saat ini bisa dianggap gradual, tidak disadari, dan dianggap sebagai kebiasaan. Sehingga kekerasan harus kita sadari mulai dari diri kita agar kita juga tidak melakukan kekerasan,” tutur Datu yang juga Ketua SatGas PPKPT UKWMS.  

Sesi kedua dilanjutkan oleh Dra. Agnes Ardhani, M.Hum. dan Ayu Gayatri, S.Sos., keduanya adalah anggota SatGas PPKPT UKWMS. Topik yang disampaikan mengenai, Ketimpangan Relasi Kuasa, Gender, dan Kekerasan di Perguruan Tinggi. “Penyalahgunaan kekuasaan terjadi juga pada perguruan tinggi. Terutama pada jabatan struktural yang dihubungkan pada budaya sungkan. Sehingga menciptakan anggapan bahwa senior selalu benar,” ujar Ayu.

Lebih lanjut, Agnes menekankan dampak stratifikasi sosial. “Stratifikasi sosial menyebabkan ketimpangan relasi kuasa, sehingga membuka ruang terjadinya kekerasan di lingkungan perguruan tinggi. Akhirnya, pihak yang posisinya lebih rendah sulit untuk bersuara,” tegas Agnes.  

Bentuk Kekerasan dan Pencegahannya


Pada sesi ketiga, hadir Agustina Engry, M.Psi., Psikolog yang memaparkan materi Bentuk Kekerasan. Meliputi kekerasan psikis hingga kekerasan seksual dari perspektif psikologis. Kekerasan seksual sendiri ada beragam jenisnya. “Bisa berupa pelecehan, catcalling, mempertontonkan organ seksual secara sengaja, tatapan yang tidak pantas, pesan atau lelucon bernuansa seksual. Hingga merekam dan menyebarkan foto atau video korban tanpa persetujuan,” tutur Tina – sapaan akrab Agustina.

Berbicara mengenai kekerasan, Tina menjabarkan lebih luas. “Kekerasan tidak selalu berbentuk fisik. Tetapi juga dapat berupa ujaran kebencian, pelecehan verbal, candaan nuansa seksual, tatapan yang tidak pantas, maupun perilaku yang melanggar batas personal. Hal seperti ini sering dianggap sepele, padahal berdampak serius terhadap kondisi psikologis korban,” ujar Tina.

Terakhir, Erlyn Erawan, M.Ed., dari SatGas PPKPT UKWMS, menyampaikan materi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan. Materi ini menekankan pentingnya membangun lingkungan kampus yang aman bagi semua. “Pelecehan sekecil apa pun tidak boleh dianggap wajar. Korban maupun saksi perlu berani mencari bantuan. Baik kepada dosen, pihak kampus, maupun Satgas PPKPT. Serta melakukan intervensi bystander, agar lingkungan belajar benar-benar aman bagi semua,” pesan Erlyn. 

Memungkasi materinya, Erlyn memberikan pesan. “Jangan sampai memandang enteng bentuk-bentuk pelecehan yang biasanya dianggap ringan. Setiap tindakan yang melanggar batas personal bisa berkembang jadi kekerasan yang lebih serius,” pesan Erlyn. 

Studi Kasus dan Membangun Budaya Aman

Tak hanya materi, peserta diajak berdiskusi langsung. Sesi ini dipimpin oleh Jaka Soedagijono, M.Psi., Psikolog menyajikan studi kasus dari buku memoar Broken Strings: Fragment of Stolen Youth karya Aurelie Moeremans. Melalui sesi diskusi ini, menegaskan bahwa setiap bentuk kekerasan berawal dari kegagalan memandang sesama sebagai pribadi yang bermartabat. 

Jaka menyampaikan bahwa Satgas berkomitmen menjaga kerahasiaan identitas korban maupun terlapor, serta mengatur mekanisme penanganan agar korban, saksi, dan pelaku tidak dipertemukan secara langsung. 

“Kesimpulan yang mau kita bawa hari ini adalah bagaimana kita bisa membangun budaya aman, agar kampus menjadi tempat yang sungguh-sungguh aman bagi semua. Satgas tidak bisa melakukannya sendiri, kita harus melakukannya bersama-sama,” ujar Jaka.

Kegiatan ini ditutup dengan pelantikan anggota baru Satgas PPKPT UKWMS. Hal ini sebagai bentuk komitmen UKWMS dalam menciptakan lingkungan belajar yang bebas dari kekerasan, diskriminasi, dan penyalahgunaan kekuasaan. Melalui rangkaian workshop dan pembentukan Satgas, UKWMS menegaskan langkah nyata untuk membangun budaya kampus yang aman, inklusif, serta menjunjung tinggi martabat di Universitas. (CIL/Red1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Satgas PPKPT UKWMS Lantik Anggota Baru

(UKWMS – 22/1/2025) – Menghadirkan ruang belajar yang aman, nyaman, dan inklusi adalah salah satu komitmen Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS). Salah satu upaya