(UKWMS – 19/3/2026) – Asosiasi Filsafat dan Teologi Indonesia (AFTI) bersama Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), berkesempatan berkolaborasi. AFTI menyelenggarakan The 3rd International Symposium: “Humanity, Justice, and Ecological Schemes – Rethinking Ethics, Technology, and Sustainability”. Dan Fakultas Filsafat UKWMS sebagai tuan rumah. Kegiatan ini berlangsung pada Rabu – Jumat (4–6/3) lalu, di IMAVI Building, UKWMS Pakuwon City.
Simposium internasional ini diikuti oleh akademisi, peneliti, dan mahasiswa dari berbagai institusi. Mereka mendiskusikan persoalan kemanusiaan, keadilan sosial, serta tantangan ekologis yang semakin kompleks di era perkembangan teknologi. Forum ini menjadi ruang dialog lintas disiplin, untuk merumuskan kembali peran etika, teknologi, dan tanggung jawab manusia dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan kehidupan bersama.
Dalam simposium ini, Prof. Prospero C. Naval Jr. dari University of the Philippines hadir secara daring sebagai keynote speaker. Dan RD. Dr. Ramon Antonio Eguia Nadres selaku Moderator. Topiknya adalah From Pixels to Wisdom: AI and the Ethics of Contemplative Care for Our Oceans. Ia membawakan perspektif tentang teknologi dan keberlanjutan, khususnya dalam konteks perkembangan kecerdasan buatan dan tanggung jawab etis manusia di masa depan.
“Penelitian ini berargumen bahwa sinergi antara persepsi mesin dan kecerdasan linguistik, memfasilitasi praktik Perawatan Kontemplatif. Pada akhirnya, kami menunjukkan bahwa AI (Artificial Intelligence, Red) dapat menunjukkan tujuan tertingginya ketika melayani Logos dunia alam, mengubah bagaimana kita melihat dan menjaga laut kita,” ungkap Prof Naval.
Selain Prof Naval, hadir juga Rm. Dr. Luis Gouveia Leite dari Instituto Superior De Filosofia E De Teologia D. Jaime Garcia Goulart (ISFIT), Dili. Romo Luis mempresentasikan peneltiannya yang berjudul “Relasi Etis Manusia – Tumbuhan dalam Etika Tanggung Jawab Hans Jonas dan Lulik di Timor Leste.
Mengawali materinya, Romo Luis menjelaskan makna lulik. Lulik mengandung norma sakral, prinsip kehati-hatian, serta sanksi moral yang secara konkret mengatur relasi manusia dengan alam. Namun hal ini belum diposisikan secara sistematis sebagai kerangka etika normatif dalam filsafat moral kontemporer.
“Penelitian ini untuk menganalisis secara kritis relasi manusia – tumbuhan, melalui etika tanggung jawab Hans Jonas dan konsep Lulik dalam budaya Timor Leste. Serta, merumuskan kemungkinan sintesis keduanya sebagai dasar bagi pengembangan etika tumbuhan yang kontekstual dan berkelanjutan,” jelas Romo Luis.



Usai pemaparan materi dari dua narasumber, para peserta berlanjut pada presentasi di lima ruang kelas. Diskusi dalam simposium terbagi dalam lima subtopik utama, antara lain:
- Ecological Breakdown and Human Responsibility,
- Dehumanization and Disconnection from Nature in the Age of Technology
- Social Inequality, Ecological Injustice, and Structural Violence,
- Cultural and Moral Disorientation in the Ecological Crisis,
- Philosophy, Faith, and the Future of Humanity.
Masing-masing subtopik, terdapat mahasiswa dan juga dosen yang mempresentasikan penelitiannya. Melalui kegiatan ini, UKWMS berharap dapat memperkuat jejaring akademik internasional sekaligus mendorong lahirnya gagasan-gagasan reflektif dan solutif, untuk merespons berbagai tantangan kemanusiaan dan lingkungan ditingkat global. (Red/Red1)


