(UKWMS – 29/1/2026) – Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) kembali menegaskan komitmennya dalam menjawab tantangan perkembangan teknologi. Salah satunya, melalui penyelenggaraan Hari Studi Santo Thomas Aquinas 2026. Kegiatan ini mengangkat tema “Integrasi Artificial Intelligence dalam Pendidikan Tinggi: Tantangan Etis, Akademik, dan Moral”. Diadakan secara hybrid, diskusi ini dilaksanakan pada Rabu (28/1) di Ruang Widya Manggala – Widya Mandala Hall, Komplek Kampus UKWMS Pakuwon City.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari bidang teknologi informasi serta filsafat dan teologi. Sehingga diskusi berlangsung komprehensif dari sisi teknis hingga moral. Para narasumber adalah Dr. Alb. Dwiyoga Widiantoro, S.Kom., M.Kom., Dosen Fakultas Ilmu Komputer Unika Soegijapranata Semarang, dan RD. Dr. Ramon Antonio Eguia Nadres, Dosen Fakultas Filsafat UKWMS.
Forum akademik tahunan ini diselenggarakan oleh Lembaga Penguatan Nilai Universitas (LPNU) melalui Pusat Pengembangan Keutamaan UKWMS. Kegiatan diikuti oleh para dekan, pimpinan fakultas, ketua program studi, dosen perwakilan, serta pimpinan unit kerja di lingkungan UKWMS Surabaya dan Madiun. Tak lupa juga, para dosen dari lingkungan Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK).
Ketua LPNU UKWMS Dr. Aloysius Widyawan, menyampaikan bahwa perkembangan Artificial Intelligence (AI), khususnya generative AI, telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan tinggi. “AI memberikan peluang besar dalam pembelajaran, penelitian, dan administrasi. Namun di sisi lain, juga menghadirkan tantangan serius terkait etika, integritas akademik, dan nilai kemanusiaan,” ujarnya.
Melalui Hari Studi Santo Thomas Aquinas 2026, UKWMS mengajak para dosen dan pimpinan akademik untuk memahami perkembangan terkini teknologi AI, mengidentifikasi manfaat dan risikonya. Serta merumuskan sikap dan pedoman penggunaan AI yang bijak dan bertanggung jawab.
“AI saat ini sudah mengalami banyak perkembangan dan semakin luas. Tanpa sentuhan tangan manusia pun, AI bisa berjalan dan menghasilkan materi yang kita butuhkan. Namun, menjadi tantangan bagi kita untuk tidak sepenuhnya bergantung dengan AI, tetapi kita harus buat AI lelah dengan narasi atau perintah yang kita berikan,” tutur Yoga – sapaan akrab Dwiyoga.
Selain tantangan, ada etika dan moral yang harus diperhatikan dalam penggunaan AI. “Sebagai dosen harus bisa membimbing mahasiswa, mengajarkan etika, dan memakai dengan bijaksana sesuai dengan moral. AI tak akan pernah menjadi manusia, karena kecerdasan manusia itu berbadan (embodied),” jelas Romo Ramon.



Sikap UKWMS terhadap AI
Dari kedua materi tersebut, institusi pendidikan – termasuk UKWMS, tak bisa lepas tangan dalam menghadapi gempuran AI. Bukan sebagai pengganti manusia, tetapi AI sebagai sarana informasi dan mendukung kinerja. Tak bisa dipungkiri, AI pun pasti memiliki keterbatasan. Dan, kita sebagai manusia juga harus bisa mengikuti perkembangan zaman.
Rektor UKWMS apt. Sumi Wijaya, S.Si., Ph.D., menegaskan bahwa integrasi AI di lingkungan kampus harus selalu berpihak pada nilai-nilai Katolik. Yang mana menjunjung tinggi martabat manusia, kebenaran, dan tanggung jawab moral. “Teknologi harus menjadi sarana pengembangan manusia seutuhnya, bukan menggantikan peran dan nilai kemanusiaan. Kita pun harus bisa memanfaatkan AI dengan baik,” tegasnya.
UKWMS pun berharap dapat menjadi pelopor dalam pengembangan kebijakan penggunaan AI di pendidikan tinggi yang etis, humanis, dan berlandaskan nilai. Hari Studi Santo Thomas Aquinas 2026 menjadi ruang refleksi bersama untuk menghadirkan pendidikan tinggi yang kreatif, inovatif, sekaligus bermoral di era digital. (Red/Red1)



