Ajak Kampus Menjadi Tangguh Bencana

Ajak Kampus Menjadi Tangguh Bencana

Terjadinya bencana di kehidupan sehari-hari memang tidak dapat di prediksi. Mulai dari bencana alam hingga teror bom pernah terjadi di Surabaya. Penanganan yang cepat tetap saja tidak menjamin bencana seperti itu tidak akan terjadi lagi. Sehingga adanya bekal pengetahuan mengenai penanggulangan atau penanganan bencana yang benar, sangat diperlukan untuk dapat meminimalisir kerusakan. Mengedukasi dosen dan mahasiswa mengenai siaga bencana tentunya sangat diperlukan. Sehingga Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) mengundang Dr. H. Iskandar Leman menjadi pembicara dalam Kuliah Tamu “Pengintegrasian Siaga Bencana dalam Kurikulum Perguruan Tinggi di Indonesia”. Perkuliahan ini berlangsung di Ruang Serbaguna UKWMS Kampus Pakuwon City, dan diikuti oleh dosen serta mahasiswa dari berbagai fakultas.

Acara dibuka dengan sambutan Wakil Rektor I UKWMS, Drs. Y.G. Harto Pramono, Ph.D., “Saya berharap seluruh peserta dapat belajar banyak dari Doktor Leman, karena beliau sangat berpengalaman di lapangan,” ucapnya. Sembari memperkenalkan diri, Leman memberi kesempatan bagi peserta untuk menanyakan hal apapun tentang dirinya. Setelah menjawab pertanyaan yang diajukan, ia meminta para peserta untuk duduk berdekatan dan tidak meninggalkan kursi yang kosong. Kursi yang kosong harus dipindahkan ke pinggir sehingga dengan sigap para peserta mengangkat dan menggeser kursi kosong.

Ia mengatakan bahwa kuliah kali ini akan berbeda dan lebih banyak praktik. “Saya ingin para peserta mempelajari materi dengan mengalaminya langsung. Kalau duduk melihat teori saja tentunya membosankan,” kata Leman tertawa. Kemudian, ia meminta para peserta untuk mengganti posisi mereka dan duduk melingkar. Setelah itu ia menjelaskan mengenai Tahap Penanganan Bencana, yaitu Pra-Bencana, Bencana dan Pasca Bencana. Masing-masing tahap sangatlah penting untuk dipersiapkan.

_DSC0805

Memang unik cara yang Leman sampaikan, ia menyuruh seluruh peserta untuk berdiri dan menjauhi tempat duduk kemudian berkenalan satu sama lain. Hal ini dilakukan dalam kelompok yang terdiri atas tiga orang selama tiga menit. Seluruh peserta pun berlomba-lomba bertegur sapa dan saling memperkenalkan diri. Setelah selesai, Leman menjelaskan bahwa seperti inilah keadaan korban pasca bencana. Mereka tidak mengenal satu sama lain, tetapi mereka harus berkenalan agar dapat saling membantu. “Mereka tidak punya apa-apa, dan tidak saling mengenal. Sehingga mereka harus mengesampingkan ego serta latar belakang untuk bantu-membantu,” kata Leman.

Pembelajaran selanjutnya, Leman kembali mengajak peserta untuk bermain. Jadi, masing-masing peserta harus memperhatikan instruksi dari Leman. Sebetulnya, pada saat terjadi bencana tidak dapat dipilih siapa korban yang akan terkena. Namun, ia memberikan instruksi yang berkebalikan dengan keadaan tersebut. Contohnya, jika Leman mengatakan orang yang terkena bencana adalah orang yang berkacamata maka mereka harus saling berpindah tempat duduk. Para peserta yang kurang beruntung untuk mendapat tempat duduk mendapat hukuman. “Masing-masing dari kalian berasal dari fakultas berbeda, coba berikan contoh kontribusi kalian saat terjadi bencana,” ucap Leman. Sebagai contoh, peserta yang berasal dari fakultas farmasi akan membantu penyediaan obat-obatan yang cukup; sedangkan mahasiswa fakultas keperawatan berkontribusi merawat para korban luka. Terakhir, Leman membagi peserta menjadi tiga kelompok diskusi yakni pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Ide-ide dari para peserta bermunculan dan disampaikan agar tercipta aksi konkret di masa pra bencana hingga pasca bencana. (red2)

 

_DSC0861