Gayung Bersambut demi Melawan Hoax

Gayung Bersambut demi Melawan Hoax

Beberapa waktu belakangan ini, banyak beredar informasi-informasi di media sosial yang sifatnya meresahkan, bahkan bisa berujung menimbulkan kepanikan yang berpotensi memecah belah masyarakat. Informasi-informasi yang menyaru ‘benar’ tapi sebenarnya tidak bisa dipertanggungjawabkan inilah yang umum disebut sebagai hoax. Data yang dipaparkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika menyebut ada hampir sebanyak 800 ribu situs di Indonesia yang terindikasi sebagai penyebar berita palsu. Tidak hanya seputar ujaran kebencian dan provokasi politik, hoax  juga sering hadir dalam bentuk informasi terkait makanan dan obat-obatan. “Hal ini berbahaya, karena meskipun dilatarbelakangi oleh maksud baik, menyebarkan informasi yang salah seputar makanan dan obat-obatan bisa menimbulkan resiko yang fatal,” ujar Sumi Wijaya, S.Si., Ph.D., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS).

Generasi muda terutama mahasiswa, sebagai bagian dari masyarakat perlu terlibat aktif dan turut serta mengisi penguatan ke-4 pilar pengawasan Obat dan Makanan di Indonesia. Peran tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai program kampanye, penyebaran informasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai keamanan, manfaat, mutu obat dan makanan. Semua itu perlu juga didukung dengan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama dalam pengembangan inovasi dan kreativitas teknologi di Bidang Obat dan Makanan. “Artinya kami sebagai institusi pendidikan perlu berperan aktif dan positif sebagai agen-agen anti-hoax dalam membendung dan mengklarifikasi berita hoax terkait Obat dan Makanan yang cenderung semakin intensif dan meresahkan masyarakat akhir-akhir ini,” ujar Drs. Kuncoro Foe, G.Dip.Sc., Ph.D., Apt. selaku Rektor UKWMS.

Menyikapi fenomena ini, UKWMS bekerja sama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyelenggarakan kuliah tamu dengan tema “Indonesia Sehat, Masyarakat Sebagai Pilar Terakhir Pengawasan Obat dan Makanan”. Kuliah tamu yang dilaksanakan di Ruang Teater East Tower Kampus Pakuwon tersebut secara langsung mendatangkan Dr. Ir. Penny Kusumastuti Lukito, MCP, selaku Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia. Sebagai badan yang mempunyai tugas untuk melakukan pengawasan, BPOM harus melakukannya secara rinci dari proses sebelum pemasaran hingga pengedaran. “Tujuan dari BPOM ini bisa disebut dengan full spectrum. Jadi kita mengawasi dari bahan baku yang digunakan, proses produksi apakah sudah sesuai dengan standar, hingga setelah produksi dilakukan pengawasan,” kata perempuan yang pernah menjabat di bagian Fungsional dalam Badan Perencanaan Nasional (Bapernas). Fungsi dari tujuan pengawasan ini sesungguhnya untuk memberikan efek jera pada para pelaku.

Permasalahan yang ditemukan ketika proses pengawasan bisa menimbulkan efek yang cukup besar hingga ke pemerintahan. “Masalah yang pertama adalah penggunaan bahan makanan yang berbahaya dan yang kedua berupa penyalahgunaan obat. Beberapa jenis obat seperti PCC banyak disalahgunakan untuk sesuatu yang lain. Obat-obat tersebut seharusnya untuk kesehatan, tetapi dikonsumsi secara berlebihan untuk menghilangkan stres,” jelas ibu empat anak ini. Ia pun menuturkan bahwa efek dari kedua masalah ini akan berakibat pada biaya kesehatan yang dikeluarkan pemerintah. Semakin banyaknya masalah kesehatan, maka pemerintah akan semakin mengeluarkan banyak biaya dalam faktor kesehatan.

Penny Kusumastuti Lukito ketika menyampaikan materi di hadapan peserta.
Penny Kusumastuti Lukito ketika menyampaikan materi di hadapan peserta.

Dalam menjalankan proses pengawasan, BPOM membutuhkan bantuan dari akademik, pelaku bisnis, komunitas serta dari pemerintah. Tahun 2017 lalu pemerintah memberikan respon yang positif dengan mendukung gerakan ‘Aksi Nasional Pemberantasan Obat Ilegal dan Penyalahangunaan Obat Oleh Presiden RI’. Presiden Joko Widodo secara langsung memberikan dukungannya dalam memberantas penggunaan bahan berbahaya dan penyalahgunaan obat.

Para generasi muda diharapkan ikut terlibat melakukan pengawasan dan bersifat tidak apatis. Para generasi muda dicirikan dengan creative, confident, and connected (3C). Dan tidak seharusnya ikut menyukai dan membagikan unggahan terkait penggunaan bahan makanan yang salah. Menjadi generasi yang lebih banyak terkoneksi dengan dunia yang luas, generasi muda sudah seharusnya mampu membantu menangkis berita-berita hoax dan turut peduli akan pengawasan di lingkungan sekitarnya. “Hanya karena tahu tetangga menggunakan olahan pangan yang tidak baik, tetapi malah ikut jadi konsumen atau tidak melaporkan. Hanya sesederhana itu bersifat apatis dan acuh tak acuh,” pungkas Kuncoro selaku moderator menutup kuliah tamu.

Usai kuliah tamu berlangsung, berlanjut diadakan penandatangan Nota Kesepahaman antara BPOM dan UKWMS serta BPOM dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sebagai payung hukum atas kerjasama yang selama ini telah terjalin dengan baik. Hal ini diharapkan dapat mendukung kedua pihak dalam menghadapi efek dari meningkatnya teknologi dan tantangan yang harus diawasi dalam Bidang Obat dan Makanan. Penandatanganan ini berlangsung di Ruang Senat ITS Lantai 2. Kerjasama yang dilaksanakan antara BPOM dengan UKWMS ini kedepan mencakup pengembangan bahan-bahan yang digunakan dalam industri dan produksi, termasuk obat-obatan tradisional. (Red/red/yov)