Spageti, Milkshake dan Cafe Latte dari Singkong

Spageti, Milkshake dan Cafe Latte dari Singkong

(UKWMS-12/4/16) Keinginan untuk menciptakan makanan yang lebih sehat dengan memanfaatkan bahan-bahan alami, bebas pengawet maupun bahan kimia sintetis, mengantarkan Agatha Audiana Soesilo, Hagi Pranata dan Jonny mengukir prestasi di tingkat nasional. First Runner Up National Business Plan Competition EURECA “Entrepreneur Creative Challenge” 2016 di Prasetiya Mulya Business School adalah satu dari sekian prestasi yang mereka torehkan. Bermula dari mata kuliah Brand & Product Management yang dipandu oleh Hendro Susanto SE., MM., ketiganya belajar membuat kemasan maupun logo dan merk produk penganan siap saji ‘Love Tela’ dengan slogan ‘Cinta Singkong Indonesia’.

“Singkong adalah produksi hasil tani terbesar ke-2 di Indonesia, tapi selama ini lebih umum dipergunakan untuk bahan-bahan cemilan seperti keripik, jajanan tradisional atau langsung dikonsumsi sebagai makanan pokok di beberapa daerah, namun belum ada yang memanfaatkan singkong untuk spageti ataupun milkshake. Padahal kalau dibentuk begitu singkong akan mengalami peningkatan nilai yang signifikan, bahkan bisa masuk ke dalam bisnis kuliner yang lebih luas,” ungkap Agatha yang tergabung dalam Tim OWL bersama rekannya Hagi dan Jonny.

Sebagai mahasiswa jurusan Manajemen Fakultas Bisnis, cukup sulit bagi mereka untuk menghasilkan produk makanan yang layak hingga lolos uji, oleh sebab itu Agatha dan Hagi berulang kali berkonsultasi ke Fakultas Teknologi Pertanian Jurusan Teknologi Pangan. Hasilnya luar biasa, meski berulang kali gagal mereka tidak menyerah. Bahkan tidak berhenti di spageti dan milkshake, mereka juga berinovasi menghasilkan coffee latte dari bahan singkong.

“Di sana kami belajar tentang zat- zat pengawet yang ternyata tidak baik untuk dipergunakan dalam pengolahan bahan makanan, dari pengalaman itulah kami berusaha membuat produk makanan yang memanfaatkan bahan alami, namun cukup awet dan aman untuk dikonsumsi,” ungkap Agatha. Demi mencari bahan baku yang murah tapi bermanfaat, tim mahasiswa jurusan Manajemen Fakultas Bisnis Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya yang memilih nama OWL ini telah mencoba beberapa hasil bumi lainnya seperti jagung dan lain-lain sebelum akhirnya memutuskan menggunakan singkong.

Mereka sengaja memilih nama OWl yang berarti burung hantu karena terinspirasi oleh kemampuan burung tersebut untuk memutar kepalanya hampir 360 derajat. “Ibaratnya, kami berharap mampu melihat segala permasalahan di sekeliling sebelum berusaha untuk menemukan solusinya,” ujar Hagi. Kelompok yang memilih basis bisnis sociopreneur ini mempersiapkan rencana bisnisnya selama tiga hingga empat bulan dan menguji kemampuan mereka dengan mengikuti lomba demi lomba. Tidak seluruhnya membuahkan prestasi, namun kegagalan justru menginspirasi mereka untuk mencari suatu cara untuk mengangkat nilai hasil alam Indonesia, khususnya singkong yang selama ini termarjinalkan. Menampilkan singkong dalam wujud spageti, membuat umbi tersebut bisa dinikmati lebih banyak orang. “Rasanya memang kami sesuaikan dengan selera lidah orang Indonesia, tetapi kalau dibuat seperti ini kan terbuka juga kemungkinan untuk dinikmati dunia internasional,” ujar Hagi.

Ki-Ka_Jonny, Hagi dan Agatha menunjukkan pembuatan milkshake dan spageti singkong

Ki-Ka_Jonny, Hagi dan Agatha menunjukkan pembuatan milkshake dan spageti singkong

Jonny, anggota termuda dari Tim Owl merupakan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan Tata Boga yang berperan sebagai juru masak utama dalam tim. “Kesulitan saat membuat spageti dari singkong itu adalah memastikan perbandingan antara tepung terigu dengan singkong haruslah tepat 2:1. Seporsi menggunakan tepung 75 gram dan singkong sekitar 30 gram. Selain itu kita harus memilih tepung terigu dengan kadar protein tinggi, agar spagetinya kenyal,” ungkapnya. Singkong yang dipergunakan haruslah dicuci bersih dan dikupas terlebih dulu, kemudian direbus dan dilumatkan hingga menjadi adonan.

Selanjutnya pembuatan spageti singkong relatif sama dengan spageti biasa yakni dengan mencampurkan telur, tepung, dan adonan singkong lalu diuleni hingga kalis. “Untuk meningkatkan kandungan nutrisi dan membuat tampilannya menarik, ditambahkan pewarna alami yang dibuat dari sari bayam (hijau), wortel (oranye) dan buah bit (merah). Selebihnya spageti singkong tinggal direbus dan disajikan dengan varian saus yang disuka seperti carbonara, bolognaise, dan aglio olio,” papar Jonny yang sedang menjalani kuliah semester ke enam di Fakultas Bisnis UKWMS.

Demikian halnya dengan milkshake dan caffee latte singkong, caranya cukup mudah. Singkong yang sudah dibersihkan dan direndam kemudian dipotong-potong dan direbus dulu hingga lunak, lalu dicampur dgn susu uht, susu kental manis, gula cair dan es batu. Pada pembuatan café latte, susu yang dipergunakan haruslah susu plain atau tanpa rasa dan warna, lalu dicampur dengan kopi murni dan diberi hiasan whipped cream atau krim kocok. “Ide tentang minuman ini tercipta karena kami memikirkan varian minuman apa yang cocok menjadi teman sajian spageti, sambil tetap memanfaatkan singkong,” tutup Jonny. Ketiganya kompak berencana untuk menyelesaikan studi dan mengumpulkan modal terlebih dahulu sebelum memulai berwirausaha dgn produk inovasi mereka secara serius. (red)