(UKWMS – 19/8/2026) – Krisis ekologis merupakan persoalan multidimensional yang tidak hanya bersifat geologis atau klimatologis melainkan juga sosial, kultural, diskursus, dan etik. Bencana yang kian intens dan ekstrem di berbagai wilayah Indonesia, menunjukkan bahwa persoalan bukan semata teknis-geologis, melainkan juga kultural dan etis. Hal ini pula yang disoroti oleh Komisi Kebudayaan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI).
Untuk itu, Komisi Kebudayaan AIPI menggelar Seminar Nasional dan Pameran Praktik Baik Pendidikan Ekologi dan Etika Kemanusiaan: Suatu Keniscayaan Bagi Perubahan Budaya Tata Kelola Kawasan. Berkolaborasi dengan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), kegiatan ini berlangsung pada Rabu (19/8), di Ruang Theater Barat, UKWMS Pakuwon City.
“Hari ini kita secara spesifik akan melihat bagaimana bencana bisa dikurangi atau diminimalisir melalui pembelajaran yang dimiliki. Materi para narasumber, akan sangat membekali pembicaraan dan diskusi kita. Ada empat kata kunci yang dibahas yakni pendidikan, ekologi, manusia, etika dan masalahnya,” tutur Prof. Dr. Ir. Daniel Murdiyarso, M.S., selaku Ketua AIPI, ketika menyampaikan sambutan.
Pada sesi pleno 1, pembahasan mengenai Etika Kemanusiaan dalam Tata Kelola Kawasan. Hadir tiga narasumber yaitu, Prof. Dr. F. Magnis Suseno, SJ., lalu Prof. Damayanti Buchori, Ph.D., seorang Guru Besar dan Direktur Center For Transdisciplinary and Sustainability Sciences IPB University, dan Airlangga Pribadi Kusman, Ph.D.
Prof Damayanti mengusung topik Keadilan Ekologis: Transdisiplinaritas Untuk Membangun Kepekaan Interspecies. Melalui studinya, Prof Damayanti menyadari sesuatu. “Kesadaran ekologis berarti membangun narasi baru. Dalam literasi ekologis, kita perlu membangun rasa. Ketika rasio tidak digabung dengan rasa, kita akan menjadi kecerdasan buatan. Sehingga, kita harus memaknai bukan hanya menghafal,” tutur Prof Damayanti.
Beralih ke topik kedua, dengan topik Pendidikan Ekologis dan Humanis: Menata Ulang Budaya Tata Kelola Kawasan dengan Prof Magnis sebagai pemateri berpedoman pada sila Pancasila, Prof Magnis meyakini bahwa kita harus punya adab.
“Kita harus beradab terhadap manusia dan alam, dan itu yang harus kita pelajari. Harus diakui situasi saat ini serius. Kalau kita terus meracuni, mengotori, dan merusak lingkungan hidup alami, kita pun mengancam umat manusia sendiri. Paling mencolok adalah tidak ada tindakan. Ini adalah situasi yang berbahaya,” ungkap Romo Magnis dalam materinya.
Tanpa kita sadari, penghancuran alam saat ini berjalan terus. Dan kita pun turut terancam. Mulai ketersediaan sumber daya, pemanasan iklim, kenaikan permukaan laut, mencairnya lapisan-lapisan es, hingga hilangnya hutan tropis.
Narasumber berikutnya, hadir Airlangga PRibadi Kusman selaku Direktur Centre for Governance and Citizenship Studies di Universitas Airlangga, Surabaya. Secara spesifik, Airlangga membawakan topik Pedagogi Ekologis untuk Gen Z.
Hal ini karena, Gen Z kerap dipandang remeh. Padahal, tanpa disadari generasi-generasi pendahulu mewariskan bumi yang rusak kepada Gen Z. Secara spesifik, Airlangga membahas dari sudut pandang kelimuannya, yaitu politik. Ada dalil baru yang diuraikan dalam pedagogi kita, bahwa relasi ini dalam konteks politik sekarang adalah relasi yang sifatnya ekologis.
Melalui pandangan ini, bukan hanya manusia antar manusia. Tapi bagaimana manusia dengan hewan, misal dengan hewan-hewan yang ada, dengan pulau, udara, laut dan sebagainya. Serta, pedagogi ekologis membangun kesadaran bahwa ini kondisinya, saat ini tidak baik-baik saja. Airlangga pun menjabarkan bahwa, penyebab perubahan alam saat ini adalah karena manusia, yang didorong oleh determinasi pertumbuhan dan kapitalisme.
“Maka, pedagogi ekologis tidak cukup hanya memberikan pengetahuan tentang iklim dan lingkungan. Tetapi, bagaimana proses transformasi sosial itu dididik, diedukasi kepada semua kalangan. Dari riset terakhir saya, menemukan satu kata yakni merdeka. Dimana, bumi dan manusia bersama-sama mengembangkan kehidupan yang layak,” pungkas Airlangga.



Praktik Baik untuk Lingkungan
Tak hanya bicara dari sisi teori, pada kegiatan ini diadakan pula pameran praktik baik ekologi. Turut berpartisipasi dalam pameran ini adalah Qaryah Thayyibah dari Salatiga, Pondok Pesantren Pabelan dari Muntilan, Sekolah Santa Maria Sidoarjo, Eco Camp Bandung, dan Centrum Laudato Si Surabaya.
Pada kesempatan ini, para peserta memamerkan dan mempresentasikan aktivitas ekologisnya. Mulai dari produk sabun eco enzyme yang ramah lingkungan, hasil sumber daya alam yang bermanfaat, hingga ruang belajar untuk kembali terhubung dengan alam.
“Kami berharap para mahasiswa bisa belajar dengan berbagai ancaman bencana dan resiko ekologi saat ini. Dan, dari acara ini mari bersama-sama membangun optimisme menjadi generasi pertama yang bisa menyelamatkan bumi dan alam semesta kita,” pungkas Prof. Anita Lie, Ed.D., selaku Ketua Pelaksana dan anggota Komisi Kebudayaan AIPI. (red1)


