Kesehatan Mental Mahasiswa: Mengenali Burnout dan Cara Menjaganya

(UKWMS – 24/8/2026) Menjadi mahasiswa adalah masa yang penuh warna, tetapi juga penuh tekanan. Tugas menumpuk, tenggat yang berdekatan, organisasi, hingga kekhawatiran tentang masa depan, semua berjalan bersamaan. Tidak heran jika banyak mahasiswa merasa kelelahan, cemas, atau kehilangan semangat di tengah jalan. Yang perlu dipahami: itu bukan tanda kelemahan, melainkan sinyal bahwa kesehatan mental perlu diperhatikan, sama seperti kesehatan fisik.

Mengapa Kesehatan Mental Mahasiswa Itu Penting

Masa kuliah adalah periode transisi besar. Banyak mahasiswa baru pertama kali hidup jauh dari orang tua, mengelola waktu sendiri, dan menghadapi tekanan akademik yang berbeda dari sekolah. Survei kesehatan mental internasional terhadap mahasiswa menunjukkan prevalensi gangguan mental yang cukup tinggi pada populasi ini (Auerbach et al., 2016). Pada masa inilah kebiasaan mengelola emosi dan stres terbentuk, dan kebiasaan itu akan dibawa hingga dunia kerja kelak. Mahasiswa yang sehat secara mental lebih mampu berkonsentrasi, berpikir jernih, menjalin relasi yang sehat, dan menikmati proses belajarnya.

Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai

Kesehatan mental yang terganggu tidak selalu tampak dramatis. Sering kali ia muncul sebagai perubahan kecil yang berlangsung lama:

  • Kelelahan yang tak kunjung hilang: bangun tidur tetap terasa lelah, sulit fokus di kelas.
  • Gangguan tidur: sulit tidur, tidur larut, atau mimpi buruk yang berulang.
  • Kecemasan berlebih: khawatir berlebihan pada ujian, tugas, atau interaksi sosial.
  • Kehilangan minat: hal yang dulu menyenangkan terasa hambar.
  • Menarik diri: menjauhi teman, organisasi, atau aktivitas kampus.
  • Perubahan nafsu makan dan berat badan: naik atau turun secara tidak wajar.

Jika tanda-tanda ini berlangsung lebih dari dua minggu dan mulai mengganggu perkuliahan, itu saatnya mencari dukungan.

Data di Indonesia

Kesehatan mental bukan isu individual, melainkan isu generasi. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang diterbitkan Kementerian Kesehatan mencatat 9,8% penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas mengalami gangguan mental emosional, seperti kecemasan dan depresi (Kementerian Kesehatan RI, 2018). Kelompok usia ini persis berada di rentang usia mahasiswa. Artinya, dalam satu kelas berisi 40 mahasiswa, kemungkinan ada beberapa di antaranya sedang berjuang secara psikologis, tanpa terlihat dari luar.

Cara Menjaga Kesehatan Mental Selama Kuliah

Kabar baiknya, kesehatan mental bisa dijaga dengan kebiasaan sederhana yang konsisten. Penelitian tentang burnout menekankan pentingnya keseimbangan antara tuntutan dan sumber daya pemulihan (Demerouti et al., 2001; Maslach & Leiter, 2016):

  1. Jaga ritme tidur: usahakan tidur cukup di jam yang relatif sama, termasuk di akhir pekan.
  2. Gerakkan tubuh: jalan kaki, olahraga ringan, atau sekadar keluar kamar. Tubuh yang aktif membantu pikiran lebih tenang.
  3. Batasi media sosial: bukan menghindari sepenuhnya, tetapi sadar kapan mulai membandingkan diri dengan orang lain.
  4. Bicara: ceritakan beban pada teman, keluarga, atau dosen wali. Masalah yang dibagikan terasa lebih ringan.
  5. Belajar berkata tidak: tidak semua kegiatan harus diikuti; kenali kapasitas diri.
  6. Rutin mengecek diri: luangkan waktu menilai perasaan sendiri, seperti mengecek “bensin” sebelum berkendara jauh.

Kapan Harus Mencari Bantuan

Mencari bantuan bukan tanda gagal, justru tanda kedewasaan. Penelitian pada mahasiswa menunjukkan bahwa gangguan seperti depresi dan kecemasan sering kali tidak terdeteksi dan tidak tertangani (Eisenberg et al., 2007). Segera cari dukungan profesional jika: perasaan cemas atau sedih terasa menekan setiap hari, sulit menjalani aktivitas rutin, muncul pikiran untuk menyakiti diri, atau teman dan orang tua Anda mengkhawatirkan kondisi Anda. Banyak kampus menyediakan layanan konsultasi mahasiswa; di luar itu, konsultasi dengan psikolog profesional seperti layanan yang dihadirkan EPICON Indonesia di Surabaya, dapat menjadi langkah bijak untuk memahami kondisi Anda secara lebih mendalam.

Membangun Pemahaman yang Lebih Dalam tentang Psikologi

Kesadaran akan kesehatan mental yang tumbuh di kalangan mahasiswa membuka peluang besar: semakin banyak orang muda yang ingin memahami cara kerja pikiran dan emosi. Bagi Anda yang merasa tertarik mendalami bidang ini, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) memiliki Fakultas Psikologi yang membekali mahasiswa dengan pemahaman teoretis sekaligus keterampilan praktis di bidang psikologi dari kesehatan mental, konseling, hingga psikologi perkembangan. UKWMS sendiri tercatat sebagai peringkat 1 kampus swasta Surabaya versi Webometrics 2026, dengan berbagai program studi yang terakreditasi. Menempuh pendidikan di bidang yang sejalan dengan ketertarikan Anda, seperti psikologi, kedokteran, filsafat, keperawatan, maupun bidang lain yang mendukung pemahaman manusia adalah investasi jangka panjang bagi diri sendiri dan sesama. (Paul/Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *