Entrepreneurial Seminar: Berwirausaha itu Seperti Menikah

Entrepreneurial Seminar: Berwirausaha itu Seperti Menikah

(UKWMS-14/3/2017) Saat berbicara tentang entrepreneurship atau kewirausahaan, umumnya muncul pertanyaan ‘Apakah wirausahawan itu dilahirkan atau dibentuk?’. Demikianlah sebuah pertanyaan retorik membuka acara seminar kewirausahaan yang diselenggarakan di Ruang Rapat Rektorat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) pada hari Selasa, 14 Maret 2017. Seminar tersebut merupakan rangkaian acara dari proyek INDOPED. Masih menghadirkan Erik Hendriks sebagai pembicara utama, seminar ini diadakan tepat sehari setelah lokakarya Rubrik Asasmen di tempat yang sama.

“Hidup kita dipengaruhi oleh waktu, semakin  waktu terbatas, perilaku kita semakin harus disesuaikan. Contohnya tentang transportasi, dahulu ketika saya tinggal di tempat yang jaraknya hanya lima menit dari kantor, setiap hari saya bersepeda untuk pergi bekerja. Ketika saya dan keluarga pindah ke tempat yang jaraknya satu jam dari kantor, setiap hari saya menggunakan waktu dua jam untuk perjalanan pulang pergi menggunakan kereta. Waktu dua jam itu akhirnya saya pergunakan untuk membaca koran di telepon genggam, ataupun mengoreksi pekerjaan mahasiswa, dua hal yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan ketika masih bersepeda untuk pergi ke kantor. Itu adalah satu contoh betapa waktu berpengaruh terhadap perilaku kita,” ujar Erik di awal seminar.

Lebih lanjut, ia mengangkat fenomena transportasi online UBER.  Sebelum UBER, banyak orang berpikir bahwa memiliki mobil adalah suatu keharusan. Setelah ada UBER, ada cukup banyak orang yang menunda atau batal membeli mobil. Perilaku mereka berubah dari keharusan memiliki menjadi berbagi. Lalu saat ada cukup banyak orang yang melakukan hal yang sama, hal itu menjadi suatu budaya. Erik lantas menjelaskan kaitan kewirausahaan dengan budaya, “saat kita berbicara tentang kewirausahaan, kita harus selalu memperhatikan kebudayaan yang terbentuk dalam masyarakat tempat kita berada”.

Sebagai seorang pakar bidang Entrepreneurial Education, dengan pengalaman mengajar sejak tahun 1983 di Belanda dan Finlandia, Erik memaparkan bahwa kewirausahaan bukanlah sekedar ‘tentang mencari uang melulu’. Kemauan dan kemampuan untuk mengarahkan dan menemukan peluang terbaik untuk diri kita sendiri sebenarnya juga termasuk dalam kewirausahaan. “Misalnya saja orang yang bekerja untuk orang lain dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Berbeda dengan generasi saya, generasi muda saat ini sudah terbiasa bekerja di satu tempat hanya selama tiga hingga empat tahun, kemudian mereka akan berpindah ke kontrak pekerjaan lainnya. Kondisi itu membuat orang harus terbiasa untuk  terus menerus mencari ‘peluang terbaik’ selanjutnya untuk diri mereka sendiri serta beradaptasi. Ini adalah suatu bentuk kewirausahaan,” terang Erik.

Seorang wirausahawan juga harus memiliki kemampuan untuk menghadapi resiko. Ada banyak cara untuk memampukan diri menghadapi resiko, bisa dimulai dengan mempersenjatai diri dengan ilmu pengetahuan yang didapatkan dari menempuh pendidikan. Selain itu, mereka yang ingin berwirausaha haruslah memiliki kepercayaan yang kuat terhadap idenya sendiri. Banyak kesuksesan wirausaha bermula dengan ide yang dinilai buruk oleh orang lain. “Kewirausahaan bukan sekedar bicara tentang menjadi wirausahawan, tapi lebih ke tentang mengambil langkah-langkah nyata untuk menyusun masa depan kita sendiri. Bertanggung jawab atas diri sendiri, mengarahkan diri sendiri untuk menjadi yang terbaik dalam kehidupan, membuat diri sendiri menjadi spesial, lain daripada yang lain. Mampu berkreasi, namun juga bagus dalam mengelola, sehingga bisnis yang dijalankan juga bisa berkembang,” tandas Erik yang sehari-hari mengajar di lnholland University of Applied Science, Netherland.

Jenni Lie, seorang mahasiswa Jurusan Teknik Kimia UKWMS melontarkan sebuah pertanyaan yang rupanya mewakili rasa ingin tahu sebagian besar peserta seminar; “kapan waktu yang tepat untuk berwirausaha?”. Setelah sedikit berkelakar menawarkan memberikan pilihan antara jawaban jujur atau dusta, Erik pun menyampaikan pendapatnya. “Itu adalah sebuah proses yang harus dirasakan sendiri. Uang seharusnya tidak boleh dijadikan alasan utama. Menjadi wirausahawan itu seperti menikah, bukan sesuatu yang langsung jadi dalam sehari, tapi harus melalui suatu proses belajar, mencoba, beradaptasi dan didasari oleh keyakinan. Tidak hanya tentang apa yang kita inginkan, tapi juga apa yang sudah kita punya serta apa yang bisa kita lakukan untuk mengembangkannya,” pungkas Erik. (Red)