Agile Leadership dalam Kondisi Pandemi

Agile Leadership dalam Kondisi Pandemi

(UKWMS – 22/4/2022) – Sumber belajar tidak melulu hanya dari duduk di dalam ruang kelas, bisa juga dari eksternal. Untuk semakin memperkaya pengetahuan dan pengalaman para mahasiswanya, Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (FB UKWMS) menggandeng Junior Chamber International chapter East Java (JCI-EJ).  Hal ini diperkuat dengan penanda tanganan MoU antara FB UKWMS dan JCI-EJ. Dari UKWMS, MoU ditanda tangani oleh Drs. Kuncoro Foe, G.Dip.Sc., Ph D., Apt., selaku Rektor UKWMS dan dari pihak JCI-EJ oleh Philips Pangestu, BSBA selaku Local President JCI-EJ.

“Kerja sama ini tentu akan mendatangkan manfaat dan membantu mewujudkan visi dan misi kedua belah pihak. Dan dengan konsep MBKM, memungkinkan mahasiswa kami untuk berinteraksi dan belajar langsung melalui tindakan nyata bersama komunitas JCI-EJ,” ungkap Kuncoro dalam sambutannya.

Selain penanda tanganan MoU, acara yang digelar secara hybrid di ruang A201 UKWMS Kampus Dinoyo diadakan pula Guest Lecturer dengan tema Agile Leadership: Developing Sense of Crisis. Sebagai organisasi kepemudaan non-profit dengan jumlah anggota mencapai 324 orang yang berdiri sejak tahun 2015, tak terhitung ragam kisah jatuh bangun yang didengar dan bahkan dialami oleh para pengusaha maupun anggota JCI-EJ. Terlebih kondisi pandemi Covid-19 yang melanda secara global selama lebih dari dua tahun, memberikan dampak tersendiri bagi para pengusaha.

Ricky Cahyadi Bastian Njoo, B.Com., selaku Senator JCI-EJ lebih dulu menyampaikan materi tentang kepemimpinan. “Menjadi seorang pemimpin itu harus bisa berada di posisi depan, tengah dan belakang. Berada di depan sebagai contoh, di tengah untuk memotivasi  dan mengawal anggota kita, dan kita juga harus ada di belakang untuk memastikan tidak ada yang tertinggal,” jelas CEO PT. Sketsa Cipta Graha Surabaya.

Kini fenomena kepemimpinan bergeser ke arah Agile Leadership. Agile sendiri memiliki beberapa makna diantaranya cepat, lincah, tangkas, cerdas. Hal ini menjadi sangat dibutuhkan dalam situasi pandemi Covid-19, dimana seorang pemimpin harus tanggap dalam merespon situasi perusahaan yang terdampak. Menurut Philips, ada tiga cara untuk menjadi pemimpin yang agile. “Pertama adalah Develop Wisdom, bijaksana dalam mengambil keputusan seperti efisiensi perusahaan, termasuk berkreasi dengan usahanya. Kedua Enrich yourself and never stop learning, perkaya diri dan jangan berhenti belajar, lalu ketiga Be in the right Environment atau berada di lingkungan yang baik, memiliki sistem pendukung yang baik, belajar dari pengalaman orang hingga cari mentor,” jelas CEO PT. Sejahtera Lestari Farma.

“Kepemimpinan itu ada banyak macamnya, kita mau jadi yang mana. Seorang pemimpin itu harus berhadapan dengan kondisi dimana ada keputusan sulit yang diambil. Seperti masa pandemi ini, tidak hanya melulu mengenai profit tetapi juga bagaimana dengan karyawannya,” pungkas Yuliasti Ika, SE., MM., dosen FB UKWMS sekaligus moderator. (Red1)