Bermain Peran? Siapa Takut!

Bermain Peran? Siapa Takut!

(UKWMS – 10/11/2022) – Bermain peran atau biasa disebut roleplay, merupakan kegiatan untuk menirukan peran orang lain. Ternyata dalam mata kuliah Komunikasi Organisasi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (Fikom UKWMS), Merlina Maria Barbara Apul, S.I.Kom., M.A., dan Putra Aditya Lapalelo S.I.Kom., M.Med Kom., dosen Komunikasi Organisasi sejak awal mengemas metode pembelajaran dalam kegiatan roleplay.

Ada tiga materi yang dikemas menggunakan konsep roleplay: Gaya Kepemimpinan, Aliran Informasi, serta Nonverbal dan Distorsi Pesan Komunikasi Organisasi. Ketiga materi tersebut dibawakan oleh mahasiswa semester tiga Fikom UKWMS yang dibagi menjadi tiga kelompok di setiap kelasnya.

Salah satu kelompok kelas Komunikasi Organisasi saat roleplay (Tirza Larasati)

Salah satu kelompok kelas Komunikasi Organisasi saat roleplay (Tirza Larasati)

Kedua dosen tersebut ingin mendasari metode pengajarannya bisa lebih beragam dan tidak monoton. “Kalau presentasi, mahasiswa hanya membaca PPT. Tetapi dengan roleplay, mahasiswa bisa lebih aktif kemudian mengaplikasikan konsep yang ada di buku agar terbiasa,” ungkap Merlin. Selain itu, mahasiswa juga diharuskan membaca buku sebagai referensi sebelum menuangkannya dalam bentuk roleplay. Hal tersebut mendorong mahasiswa lebih kreatif dalam memecahkan masalah, termasuk saat berdiskusi dengan kelompok bisa mempunyai banyak konsep yang dipikirkan dan diutarakan.

Kegiatan ini juga sesuai dengan visi, misi, dan nilai keutamaan UKWMS: Peduli, Komit, dan Antusias. Bagaimana nilai-nilai tersebut diterapkan dalam metode pembelajaran hingga akhirnya bisa diterapkan dalam kehidupan mahasiswa. Dalam menyusun roleplay terdapat proses komunikasi antar mahasiswa, di mana mahasiswa saling kerja sama, berdiskusi, saling mengenal, hingga bertukar pikiran.

“Capaian yang ingin dicapai melalui roleplay ini adalah pemahaman, kritis, dan kreatif dalam menjelaskan bentuk-bentuk komunikasi organisasi, dan konsep-konsep teori. Menjalani roleplay juga menjembatani mahasiswa memahami hubungan antara konsep komunikasi organisasi dengan realitas komunikasi organisasi,” tegas Putra.

Putra turut mengungkapkan rasa bahagia dan bangganya, kepada mahasiswa yang telah melakukan kegiatan roleplay dalam mata kuliah ini, “Sebagai dosen, mahasiswa memahami materi yang diberikan lebih dari cukup untuk membuat saya bangga dengan mereka.”

Elizabet Yohana, salah satu mahasiswa kelas Komunikasi Organisasi menyampaikan, “Senang roleplay-nya berjalan dengan lancar, apa yang direncanakan dengan kelompok bisa berjalan dengan lancar”. Mahasiswa hanya diberikan waktu satu minggu untuk melakukan persiapan, yang tentunya sangat menantang kreativitas. Karena tidak mudah mengemas apa yang ada di buku, menjadi potongan adegan dalam roleplay. “Menurutku metode seperti ini efektif sekali, jadi tidak membosankan. Kalau materi biasa kadang suka ngantuk dan jadinya nggak fokus,” jelas Elizabet. (Tirza Larasati – Mahasiswa Fikom UKWMS/Red)