UKWMS Uji Publik Pansel Satgas PPKS

UKWMS Uji Publik Pansel Satgas PPKS

(UKWMS – 18/11/2022) Kekerasan seksual menjadi permasalahan yang serius dan sangat sering terjadi terutama di perguruan tinggi. Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) menindaklanjuti dari peraturan Permendikbud No. 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual, membentuk Panitia Seleksi Satuan Tugas Pencegahan & Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS).

Pansel PPKS ini dapat diikuti oleh seluruh civitas akademika UKWMS yang ingin berpartisipasi seperti mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan. Setelah seleksi awal, terdapat 15 orang yang akan menjalani Uji Publik Pansel PPKS. Sebelum mengikuti Uji Publik, para calon tersebut sudah mendapatkan pelatihan dan edukasi secara lengkap mengenai kekerasan seksual. Nantinya dari 15 orang akan diseleksi menjadi hanya tujuh orang yang terpilih. “Walaupun tidak terpilih, kami masih berharap semua civitas akademika UKWMS mau bersama peduli mengenai kasus kekerasan seksual,” kata Ir. Aning Ayucitra, S.T., M.Eng.Sc., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., selaku Wakil Rektor I UKWMS.

Uji Publik ini dilaksanakan pada Jumat (18/11) di ruangan A301 UKWMS Kampus Dinoyo. Terdapat dua panelis dalam Uji Publik ini, yakni Akhsaniyah, S.Sos., M.Med.Kom., selaku aktivis Yayasan Pusat Studi Hak Asasi Manusia Surabaya, dan Dra. Astrid Regina Sapiie, Psikolog., selaku Pendiri, Pengawas dan Konsultan Savy Amira “Women’s Crisis Center” Surabaya.

“Tentunya kami sangat menginginkan kampus UKWMS dapat terbebas ataupun nol kasus kekerasan seksual. Harapannya usai Uji Publik ini akan terpilih orang-orang terbaik yang dapat menjalankan tugas untuk mencegah dan menangani kasus kekerasan seksual di kampus,” jelas Dr. F.V. Lanny Hartanti, S.Si., M.Si., selaku Wakil Rektor III UKWMS saat menyampaikan sambutan.

Acara berikutnya para calon mengenalkan diri dan juga menyebutkan motivasi diri untuk bergabung dalam Pansel PPKS. Masing-masing peserta mengungkapkan bahwa Pansel untuk PPKS sangatlah penting karena banyak sekali korban kekerasan seksual di kampus tidak mendapat perhatian yang tepat. Seringkali korban tidak didengar, bahkan mungkin diabaikan oleh sekitarnya sehingga para calon ingin menjadi tempat bercerita yang nyaman bagi mereka. Dilanjutkan dengan Sesi Tanya Jawab dan juga Focus Group Discussion para calon berdinamika bersama sembari diberi penilaian oleh panelis.

“Saya memberikan apresiasi untuk semangat para mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan kita atas partisipasinya. Mari kita niatkan pembentukan Pansel PPKS untuk keadilan bagi para korban,” ujar Akhsaniyah menyampaikan closing statement. Sedangkan Astrid mengungkapkan bahwa kita semua harus dapat mencerminkan perbuatan positif di kehidupan sehari-hari, sebagai upaya pencegahan kekerasan seksual di kampus. (Red1)