Mahasiswa New Zealand Belajar Racik Jamu

Mahasiswa New Zealand Belajar Racik Jamu

(UKWMS – 11/11/2022) – Inovasi sangat perlu dilakukan terutama dalam bidang makanan untuk menarik minat para konsumen. Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) melalui Kantor Urusan Internasional (KUI), bersama Giles Brooker Group (GBG) dan Ottimo Internasional menggelar “Culinary Arts and Food Innovation (CanFI) 2022”. Program kolaborasi ini merupakan program hibah dari Pemerintah New Zealand, New Zealand Prime Minister’s Scholarship for ASIA (PMSA).

Sebanyak 14 mahasiswa datang untuk belajar dan berbagi pengalaman di Indonesia. Pembukaan CanFI berlangsung pada Rabu (2/11) lalu di UKWMS, untuk saling memperkenalkan diri antara para mahasiswa New Zealand dengan mahasiswa UKWMS. Fakultas Teknologi Pertanian (FTP UKWMS) menjadi kolaborator yang tepat untuk membantu para mahasiswa New Zealand mengenal makanan-makanan di Indonesia.

Mereka diajak pula dalam perjalanan ke Jogjakarta mulai (8-11/11) untuk mengetahui proses pembuatan Jamu di Desa Wisata Jamu Kiringan. “Mereka awalnya dikenalkan dengan sejarah munculnya Desa Wisata Jamu Kiringan oleh warga setempat. Setelah memahami tentang jamu, dan kenapa jamu bisa jadi sumber pendapatan desa itu, mereka diajak untuk belajar cara membuat jamu kunyit asam, dan keliling-keliling di sekitaran rumah warga yang mempunyai banyak Tanaman Obat Keluarga (TOGA),” jelas Ayu Gayatri, S.Sos., staff KUI UKWMS yang turut mendampingi para peserta CanFI 2022.

Salah satu mahasiswa New Zealand, Kaycee mencoba memeras kunyit untuk mendapatkan sari

Sebelumnya, para peserta dikenalkan dulu dengan bahan-bahan untuk meracik jamu kunyit asam. Para peserta antusias menumbuk kunyit, merebus kunyit agar tidak bau anyir, kemudian memeras kunyit yang sudah ditumbuk, dan ditambahkan air.

Memang membuat jamu tidak mudah dan harus telaten, namun masing-masing mahasiswa dapat mengerjakan tugasnya dengan baik. “Baru pertama kali mencoba jamu dan saya langsung suka. Rasanya unik, terasa hangat dan segar untuk tubuh,” ucap Adrian salah satu peserta dari New Zealand. Usai dari Desa Wisata Kiringan, mereka berlanjut mengunjungi Kawasan Wisata Candi Borobudur yang merupakan salah satu cagar budaya terbesar di Indonesia. (red1)